Yang Tercecer dari Koin Keadilan Prita

Para relawan berfoto bersama sebelum pulang di hari terakhir penghitungan koin

Meski sudah berlalu, momentum Koin Keadilan Prita masih menjadi kenangan tersendiri buat saya. Selain karena kantor saya berubah menjadi layaknya gudang uang Paman Gober, keterlibatan saya dalam proses penghitungan koin yang mencapai sekitar 600 juta itu, merupakan pengalaman yang tak terlupakan.

Rencananya, peristiwa ini akan dibukukan. Saya belum tau pasti, tapi Mas Yusro, salah satu tokoh di balik gerakan Koin Keadilan Prita ini meminta saya untuk menuliskan kembali beberapa remah-remah peristiwa yang terjadi selama proses penghitungan koin, yang mungkin terluput dari sorotan media. Saya memang sempat mendokumentasikan peristiwa tersebut secara sekilas, mengingat saat itu situasi di posko begitu meriah. :)

Tulisan kali ini akan memuat cerita yang saya kompilasi ulang dari tulisan-tulisan saya di blog Koin Keadilan tersebut. Semoga berkenan. :)

Pemulung Cilik dan Kejujuran

Pemulung cilik itu menunggu cukup lama sebelum mendekati tempat sampah di Langsat yang penuh dengan tumpukan kardus, kaleng, dan bekas celengan. Rupanya dia menunggu kumpulan gelas plastik minuman kemasan yang tercecer untuk diletakkan di tempat sampah itu.

Begitu kardus berisi gelas-gelas plastik itu diletakkan di dekat tempat sampah (karena tempat sampah sudah tidak muat), pemulung cilik itu dengan cekatan segera menyortir dan mengumpulkan benda-benda yang sekiranya bisa dia ambil dan dijual kembali, ke dalam karung palstik besar berwarna hitam kusam yang ia bawa.

Pemulung cilik jujur yang sedang "panen" di Langsat

Pemulung cilik jujur yang sedang "panen" di Langsat

Kardus, kaleng-kaleng, dan bekas celengan plastik yang telah disobek untuk dikeluarkan isinya, berkeping-keping uang logam untuk dihitung di Posko Langsat, menjadi sasaran utamanya. Selain gelas-gelas plastik bekas air minum dalam kemasan yang sepertinya sudah diincarnya sejak tadi tentunya.

Posko Koin Keadilan rupanya juga membawa berkah bagi orang lain. Contoh nyatanya adalah si pemulung cilik yang diceritakan di atas. Terjadi sebuah simbiosis mutualisme. Tumpukan sampah yang menggunung, rupanya bisa menjadi ladang rezeki bagi orang lain. Tempat sampah Langsat pun kembali kosong dan siap menampung sampah-sampah berikutnya.

Tiba-tiba terdengar bunyi gemerincing. Koin-koin yang tercecer dan masih berada di dalam kaleng, terselip di sela-sela lipatan kardus, atau di dalam celengan yang mungkin lupa terambil oleh relawan, kembali dilemparkan si pemulung cilik ke atas karpet tempat penghitungan koin.

Kami yang melihatnya langsung terdiam, sementara si pemulung cilik seakan tidak mengetahui kami yang memperhatikan gerak-geriknya, masih sibuk mengorek-korek sampah. Tidak satu-dua kali aksinya melempar kembali koin yang ditemukannya di tempat sampah kembali ke posko penghitungan.

Bisa saja si pemulung cilik mengambil dan menyimpan koin-koin yang tercecer itu. Bila dikumpulkan pun, hasilnya cukup lumayan, walau toh tak seberapa bila dibandingkan dengan jumlah yang terkumpul yang saat itu hingga mencapai sekitar 280 juta.

Namun ini tidak dilakukannya. Si pemulung seolah bisa mengerti, mana yang menjadi haknya dan mana yang bukan haknya. Sampah adalah miliknya, namun koin itu bukan, koin itu milik Prita. Perilaku jujurnya ini juga ditunjukkan sejak awal. Dia memilih menunggu hingga gelas-gelas plastik yang memang tercecer di seputaran posko, ditaruh dahulu di tempat sampah, meski jika dia mengambil ceceran gelas plastik itu secara langsung pun tidak akan dianggap sebagai masalah. Seolah-olah ia ingin memastikan, bahwa gelas-gelas platik itu benar-benar menjadi haknya, berada di tempat sampah.

Kami yang melihatnya pun tergerak. Bantuan logistik untuk para relawan penghitung koin berupa makanan dan minuman begitu melimpah di Langsat. Seseorang di antara kami menawarkan si pemulung cilik untuk mengambil nasi kotak. Si pemulung menolak, dengan alasan dia sudah mengambil jatah dari sisa-sisa nasi kotak. Sontak kami yang mendengarnya langsung terdiam.

Hampir tengah malam, ketika si pemulung cilik itu kembali ke Langsat untuk meneruskan pengumpulan sampahnya, kami akhirnya harus sedikit memaksa si pemulung cilik untuk tidak menolak pemberian nasi kotak. Kami memaksanya untuk membawa beberapa nasi kotak, untuk dibawanya pulang, untuk disantapnya bersama keluarganya.

Cerita Koin-Koin Yang Tercecer

“Satu juta!,” teriak kelompok yang terletak di ujung. Sambil mengangkat sekantung plastik koin yang sudah dihitung untuk kemudian dicatat. Menghitung koin dari berbagai jenis, ukuran, dan nilai, apalagi dalam jumlah banyak, menghasilkan cerita-cerita tersendiri. Hampir semua relawan penghitungan koin punya pengalaman menarik.

Binawati, perempuan yang akrab disapa MpokB ini, misalnya. “Ujung jariku langsung berwarna hitam karena mengelompokkan, menyusun, dan menghitung koin-koin ini,” sambil menunjukkan ujung-ujung jarinya yang berwarna gelap akibat kotoran yang menempel di koin berpindah ke kulitnya yang putih.

“Mas, ini ada koin game ding-dong. Ditaruh di mana?,” seorang relawan yang menemukan kepingan uang untuk mengaktifkan mesin permainan itu bertanya kepada saya. “Oh, kumpulkan saja di sini,” jawab saya. “Mungkin orang iseng,” jawab saya ketika melihat koin permainan ini.

“Eh, lihat! Ini mata uang negara mana?,” teriak yang lain ketika melihat sekeping uang bertuliskan aneh, entah ini tulisan kanji Cina atau Jepang. “Kumpulkan saja di situ,” kata saya sambil menyodorkan wadah untuk menampung “koin khusus” ini.

Tak disangka, keping demi keping koin-koin yang bukan mata uang rupiah itu pun terkumpul. Hingga akhir penghitungan, terkumpul sekitar sepertiga volume kaleng biskuit berdiameter sekitar 20 cm. Cukup banyak juga.

Bentuk dan jenis koin-koin ini beragam, baik dalam bentuk, bahan, dan tulisan yang tergrafir di atasnya. Ada dari Timezone, gamezone Cineplex 21, Fantasia, Super Game, Mars Game Center, Fun World, Mega Dunia, Game Master, Happy Day, bahkan koin untuk loker bandara.

Entah apa maksud si pengirim ikut menyumbang koin-koin mesin permainan ini. Apakah ini salah satu wujud dari ekspresi mereka, bahwa seolah-olah hukum ini bisa dimainkan, seperti layaknya mesin video game yang baru berfungsi setelah koin ini dimasukkan?

Berikutnya ada sekaleng penuh koin dalam berbagai mata uang dalam kaleng biskuit Khong Guan yang berbentuk balok. Ketika koin-koin sudah habis dihitung, dan para relawan terlihat “sakaw” menghitung koin, koin-koin ini pun diserahkan kepada para relawan untuk dikelompokkan berdasar mata uang dan dihitung nilainya. Gemericik koin yang dituangkan kemudian diikuti sorakan “hore” berakhir dengan kesunyian karena para relawan sibuk dengan tumpukan koin masing-masing.

Ada lebih dari 10 mata uang yang berhasil dikumpulkan. Beberapa di antaranya cukup akrab, misalnya Dollar Singapura, Dollar Amerika (dalam pecahan Sen), Ringgit Malaysia, Yen Jepang, Yuan Cina, Won Korea, hingga Euro. Sisanya koin-koin yang tak jelas, karena keterbatasan pengetahuan soal mata uang negara-negara, hingga kondisi koin yang memprihatinkan hingga tak diketahui dengan pasti asal negara si koin. Baru kali ini saya melihat koin-koin dari berbagai mata uang sebegitu banyaknya. Yang membuat saya kagum adalah mata uang dari negara Israel dan Timor Leste!

Menghitung koin-koin mata uang asing ini susah-susah gampang. Untuk yang sudah terkenal macam Dollar, Ringgit, dan Euro, tiada masalah berarti. Masalah konversi mata uang baru muncul ketika menghitung nilai mata uang Yen, Won, Yuan, Rubel, Real dan sebagainya. Untuk yang nominalnya genap macam 1, 5, 10, itu sih gampang. La bagaiaman dengan mata uang bernilai 2.5 dan pecahan “sen”, terutama untuk mata uang dari negara-negara Arab (karena sama-sama berhuruf Arab)?

Kumpulan koin-koin dari berbagai mata uang ini seolah-olah menyimbolkan, bahwa persoalan ini tidak hanya tergaung di ranah nasional, tapi mencapai internasional. Para penyumbang yang tersebar di seluruh pelosok negara, yang tercermin dalam berbagai mata uang, seolah-olah ikut mendukung gerakan ini. Sebuah momentum yang sangat luar biasa.

Mata uang rupiah lama, yang sudah tidak berlaku, juga menghiasi koin-koin yang terkumpul. Sejumlah koin dalam mata uang rupiah lama ini dikelompokkan jadi satu kantong plastik dan terkumpul sejumlah Rp 9.180,-. Mata uang dalam pecahan Rp1 ,-, Rp 5,-, Rp 10,- bahkan pecahan 25 dan 50 sen rupiah, yang bertahun emisi 1970-1974 ini tetap dihitung.

Rupanya menghitung koin sebegitu banyaknya sangat melelahkan. Belum lagi ketika kondisi badan capek, penghitungan jumlah koin bisa jadi kurang akurat dan rentan kesalahan hitung. Seorang relawan yang rupanya mengamati cukup lama metode penghitungan manual para relawan rupanya geregetan dan gemas. Teknik menghitung satu per satu koin itu dianggapnya terlalu lama.

Menghitung koin dengan memasukkan koin 500-an ke dalam pipa PVC hingga ketinggian tertentu

Dia pun kemudian membawa sepotong pipa PVC setinggi sekitar 25 cm dengan diameter sebesar uang logam Rp 500,- untuk dipakai menghitung. “Bila memasukkan koin lima ratusan ke dalam pipa ini hingga penuh, maka jumlahnya setara dengan Rp 50.000,-.,” ungkap si penemu dengan bangga.

Benar saja, ketika dicoba, jumlah koin gopekan yang dimasukkan hingga full, ketika dihitung ulang, jumlahnya Rp 50.000,-. Sayangnya pipa yang dia bawa cuma satu, sehingga tidak memberikan efek signifikan, walau “penemuannya” tetap mengesankan dan luar biasa.

Selain koin-koin yang dikirim dalam kaleng, kardus, amplop, kantong plastik, dan celengan, berbagai wujud dukungan masyarakat dikirimkan melalui posko Koin Keadilan di Langsat. Cukup banyak yang lucu dan unik, yang merupakan wujud dari kreativitas masyarakat. Benda-benda ini merupakan wujud dari kreativitas mereka. Tentu saja, benda-benda yang dikirimkan memiliki pesan moral tertentu.

Sebuah koin jumbo dengan nilai nominal 500 rupiah yang dikirimkan ke Langsat dengan maksud untuk diserahkan kepada ibu Prita dan disimpan sebagai kenang-kenangan. Diameternya sekitar 10 cm dan terbuat dari bahan tembaga-kuningan. Entah bagaimana membuatnya tapi koin jumbo ini sangat menakjubkan. Mirip dengan koin asli, hanya ukurannya yang jumbo.

Selain koin jumbo, Posko Langsat juga menerima koin yang disertai pesan kepada Anggodo Widjojo, kakak dari Anggoro Wijoyo, dua nama yang mencuat sejak tersiarnya kabar kisruh KPK. Koin-koin disusun sedemikian rupa hingga berbentuk timbangan, di mana timbangan bertulis “awam, jujur, tanpa sogokan” kalah berat dengan timbangan berisi “uang sogokan”. Sebuah sindiran akan timpangnya hukum negeri ini.

Koin bernominal 500 rupiah berukuran jumbo. Bandingkan dengan ukuran koin sebenarnya.

Rangkaian koin ini bertuliskan pesan “Dukung Anggodo. Capres 2014 Orang Terkuat Di Republik Saat Ini.” sebagai wujud kekesalan si pengirimnya. Koin ini dikirimkan oleh orang (atau sekelompok orang) yang menamakan dirinya “fans Prita”. Tak ayal, timbangan ini pun sempat jadi sasaran favorit kamera wartawan televisi.

“Horeeee!!!”, sorak para relawan yang membuat kami yang ada di dalam ruangan serta merta melongok keluar. Ada apa kah gerangan? Rupanya sekardus koin datang lagi ke posko. Sorakan-sroakan pengobar semangat ini memang kerap terdengar di posko. Meski sudah “kebal”, sorakan-sorakan para relawan ini tetap saja membuat siapa saja penasaran untuk menengok, sekedar ingin tahu apa penyebab para relawan ini bersorak.

Biasanya para relawan bersorak untuk sekedar melepaskan penat, rasa bosan, atau sekedar memompa semangat untuk meneruskan kegiatan menghitung koin yang melelahkan ini. Selain itu, teriakan-teriakan ini menjadi semacam “salam” dari para relawan kepada relawan yang datang untuk bergabung menghitung, datangnya koin ke posko, datangnya kiriman makanan atau minuman ke posko, atau relawan yang hendak pulang.

Para relawan datang dari berbagai daerah dan latar belakang. Ada mahasiswa, pekerja kantoran, wartawan, hingga ibu rumah tangga. Semuanya asyik pada tugasnya masing-masing, berkonsentrasi pada koin-koin yang tersebar di depannya. Suasana pun bertambah akrab dan hangat karena sorakan semangat ini.

Horeee!!

Related Articles
  • There's no related article

14 responses

  1.  

    Sebut reaksi ini berlebihan. Tapi tulisan-tulisan tentang koin ini bikin saya merinding terharu, Zam.

    Vicky Laurentina — March 11, 2010 04:34
  2.  

    saya suka dengan cerita pemulung cilik itu :)
    semoga kita semua bisa memilah mana yang hak kita dan bukan hak kita… :) (hassle)

    mawi wijna — March 11, 2010 10:37
  3.  

    Indahnya kebersamaan

    Jauhari — March 11, 2010 16:31
  4.  

    semoga kegiatan ini bisa mengurangi adanya ketidakadilan di Indonesia. Sebuah kritikan yang sangat halus dan mengagumkan untuk ditiru

    phery — March 11, 2010 17:27
  5.  

    pengamatan mas zam, cermat!

    jarwadi — March 12, 2010 08:19
  6.  

    merinding dan terharu….

    dee — March 12, 2010 13:27
  7.  

    hemmm cerita lama yg tak terlupakan dab,

    geblek — March 12, 2010 20:17
  8.  

    ahh… indahnya gotong royong … *terharu*

    gadgetboi — March 13, 2010 18:49
  9.  

    benar-benar sudut pandang yang berbeda dari Koin Peduli Prita!

    gue seneng baca tulisannya, nice view! :-)

    andri — March 16, 2010 04:26
  10.  

    Sama sama sudah lamanya, Bersama kita bisa… :D

    Suke — March 19, 2010 06:03
  11.  

    komentar di atas mencerminkan suasana hati saya ketika membaca cetusan ini. Duh, menggedor rasa!

    Ahmad — April 20, 2010 15:48
  12.  

    tentang pemulung itu. saya terharu.

    purwaninidita — April 21, 2010 14:40
  13.  

    Q naksir ama koin 500 perak yang jumbo Ntuh! (evil_grin)

    lambang — April 22, 2010 14:32
  14.  

    benar-benar sudut pandang yang berbeda dari Koin Peduli Prita!

    gue seneng baca tulisannya, nice view! :-)

    Amy — June 4, 2010 06:27
 
:-)) :-) :-D :-P (woot) ;-) :-o X-( :-( :-& (angry) (annoyed) (bye) B-) (cozy) (sick) (: (goodluck) (griltongue) (mmm) (hungry) (music) (tears) (tongue) (unsure) (dance) (doh) (brokenheart) (drinking) (girlkiss) (rofl) (money) (rock) (nottalking) (party) (sleeping) (thinking) (bringit) (worship) (applause) 8-) (gym) (heart) (devil) (lmao) (banana_cool) (banana_rock) (evil_grin) (headspin) (heart_beat) (ninja) (haha) (evilsmirk) (bigeyes) (funkydance) (idiot) (lonely) (scenic) (hassle) (panic) (okok) (yahoo) (K) (highfive) (LOL) (blush) (taser)