Rezeki Penyemir Sepatu

Kapan terakhir kali kamu melihat tukang semir sepatu? Saya melihatnya kemarin malam ketika mencari makan di Warung Lesehan Bu Gendut di emperan Blok M Square yang sudah tutup, sepulang dari acara Obrolan Langsat yang mengundang pimpinan KPK Bibit-Chandra.

Setelah memesan nasi pecel plus telor asin, saya pun duduk lesehan menghadap meja lipat. Nila yang menemani saya tidak memesan apa pun kecuali es teh manis. Jam menunjukkan pukul 11 malam dan Warung Lesehan Bu Gendut udah mulai sepi.

Di samping meja saya duduk sekelompok anak muda yang cukup berisik. Mereka terdiri dari 4 orang pria dan 2 perempuan.

Tiba-tiba datang seorang anak penyemir sepatu. Salah seorang pria dari rombongan berisik di samping meja kami. Seorang di antara merek kemudian menyuruh si penyemir sepatu untuk membersihkan sandal kulit berwarna cokelatnya yang usang.

Awalnya saya tidak mempedulikan, namun sikapnya yang cukup kasar menurut saya, menyuruh dengan raut muka meremehkan kepada si anak penyemir sepatu, membuat saya makin kesal.

Si anak penyemir sepatu pun menyinngkir, memilih duduk di atas box kayu berisi peralatan semir, sebuah kain dan pemoles kulit, dan mulai bekerja. Si anak memilih bekerja di tengah kegelapan di samping meja peracik minuman Warung Lesehan Bu Gendut.

Nila pun bergumam, “Kasihan ya, anak itu. Jam segini masih saja mencari uang.” Saya pun menoleh ke arah anak penyemir sepatu. Kemudian tawa si pria yang tadi menyuruh dengan kasar itu membuat saya berpikir, yang mungkin terasa berlebihan, “Ini orang gak punya perasaan.”

Saya pun berdiskusi dengan Nila, apakah baik kalo misal kami memberi si penyemir sepatu uang, untuk sedikit meringankan beban. Nila berpikir bahwa niat baik kami itu bisa menjadi semacam “penghinaan” buat mereka.

“Wong saya mampu bekerja, kok dikasih uang tiba-tiba. Saya kan bukan pengemis”, begitu kira-kira pikiran si anak penyemir sepatu. “Ah, namun kalo memang mau niat ngasih dengan ikhas, masa mo ditolak?”, saya berargumen.

Anak itu selesai dengan pekerjaannya dan kembali mendekati rombongan di sebelah kami. Teman pria yang tadi menyuruhnya menyemir sandal coklat bututnya, ikut-ikutan menyuruh si anak untuk menyemirkan sandalnya juga, lagi-lagi dengan tatapan merendahkan.

“Jadi gimana? Kita bantu dia tanpa membuatnya tersinggung?”, saya bertanya dan kami terdiam. Nasi pecel saya sudah habis. Sembari menyeruput es teh manis, kami berpikir tentang cara membantu yang baik.

Si anak sudah selesai dan kembali menyerahkan hasil kerjanya. Sandal itu sudah kinclong. “Berapa?”, tanya si pria pertama. “Lima ribu, bang”, si anak menyebutkan harga. Dua lembar uang bergambar Tuanku Imam Bonjol kucel berpindah tangan. Si anak segera beranjak dari situ tanpa ucapan terima kasih, dan bergegas menuju tempat duduk tak jauh dari situ, meski tetap berada di keremangan.

Tak lama temannya sesama penyemir sepatu yang berbaju putih datang menghampiri. Mereka kemudian mengeluarkan uang hasil dari kerja mereka dan mulai menghitung. Karena remang-remang, tak jelas berapa lembar uang hasil kerja mereka. Kalo dari pengamatan kami, sepertinya mereka mendapat 30 ribu rupiah.

“Ya sudah, mending kamu tanya anak itu apa sudah makan belum. Kalo belum tawari aja makan”, Nila memberikan saran. Ah, ide yang bagus!

Kami sengaja duduk agak lama sambil menunggu kedua anak itu lewat. Dan ketika mereka lewat, kami pun memanggil, ”Dik, sudah makan belum?” Mereka menggeleng. “Ya sudah, pesen makan sana, nanti saya yang bayar.” Saya pun segera memberi tahu mbak pelayan di Warung Lesehan Bu Gendut untuk menyediakan makan untuk kedua penyemir sepatu itu.

“Ini mau dibatesi berapa duit makannya, mas?”, tanya mbak pelayan warung. “Biar mereka yang milih, mbak.”

Saya pun kembali ke meja dan berkemas karena sekalian akan pulang. Kedua anak tadi rupanya memilih membungkus makanan mereka. Saya tak tahu menu apa yang mereka pilih, namun saya tadi sempat melhat si baju putih memilih paha ayam sebagai salah satu lauknya.

“Makasih”, gumam mereka lirih setelah menerima bungkusan nasi dengan wajah yang seakan tak percaya dan ragu. “Iya. Kalian cuma berdua?”, mereka pun mengangguk dan cepat-cepat pergi. Mereka seakan tergesa dan curiga dengan “sikap baik” kami yang menraktir mereka. Mereka pun tiba-tiba menghilang ketika saya selesai membayar makan malam kami.

Bu Gendut yang tadi memperhatikan kami nampak heran. Dia pun sampai berterima kasih kepada kami sambil agak berteriak. Sepanjang jalan pulang saya merasakan suatu perasaan yang luar biasa. Perasaan senang bercampur lega.

Senang karena bisa membantu kedua anak penyemir sepatu itu dan lega karena bisa menuntaskan niat tersebut menjadi perbuatan.

Alhamdulillah. Saya masih bisa makan dan hidup berkecukupan. Minimal tidak perlu bekerja keras seperti mereka, dengan hasil yang entah berapa.

Alhamdulillah. Saya bisa berbagi rezeki. Dan semoga kedua anak penyemir sepatu itu juga mendapat rezeki yang lancar.

Related Articles
  • There's no related article

3 responses

  1.  

    Senang ya bisa bantu orang lain.

    Aku rasa tiap orang berhak untuk diajak bicara baik-baik biarpun kita sudah bayar dia untuk menyemir sepatu kita.

    Vicky Laurentina — July 4, 2010 10:37
  2.  

    Pernah dalam satu episode, Nobita berkata ke Doraemon, “Senangnya ya Doraemon abis menolong orang…”. Dulu saya nggak percaya kata Nobita itu, tetapi sekarang, ternyata perasaan senang, lega, dan bahagia itu selalu datang setelah melakukan sesuatu untuk orang lain dengan tulus.

    galihsatria — July 6, 2010 05:44
  3.  

    nice zam… aku juga jadi inget sama penyemir sepatu yang masih anak2 waktu di Prabumulih dulu..

    ada cara lain juga zam, membantu tanpa membuat mereka tersinggung.. kalo misal sedang pake sepatu, minta tolong aja disemir, tapi dikasi uang beberapa kali lipat dari yang dia minta.. :-))

    tupic — July 7, 2010 06:43
 
:-)) :-) :-D :-P (woot) ;-) :-o X-( :-( :-& (angry) (annoyed) (bye) B-) (cozy) (sick) (: (goodluck) (griltongue) (mmm) (hungry) (music) (tears) (tongue) (unsure) (dance) (doh) (brokenheart) (drinking) (girlkiss) (rofl) (money) (rock) (nottalking) (party) (sleeping) (thinking) (bringit) (worship) (applause) 8-) (gym) (heart) (devil) (lmao) (banana_cool) (banana_rock) (evil_grin) (headspin) (heart_beat) (ninja) (haha) (evilsmirk) (bigeyes) (funkydance) (idiot) (lonely) (scenic) (hassle) (panic) (okok) (yahoo) (K) (highfive) (LOL) (blush) (taser)