Kalo Raffaell marah-marah karena beberapa piranti menggunakan konektor proprietary, saya sering sebel juga dengan sistem operasi dan aplikasi yang punya format dokumen sendiri-sendiri. Kenapa sih aplikasi itu tidak menggunakan format dokumen yang seragam untuk fungsinya?
Contohnya nih, Microsoft Word 2007 mulai menggunakan format dokumen .docx yang merepotkan pengguna aplikasi pengolah teks semacam OpenOffice.Org atau Microsoft Word yang lebih rendah versinya. Mau tak mau, kita harus menggunakan aplikasi MS Word 2007 tersebut dan harus membeli seharga sekitar US $ 150 (harga pelajar)! Itu pun kita harus membeli seluruh paket Office, ndak bisa cuma beli MS Word-nya saja.
Memang sih, kita bisa pakai aplikasi converter, namun kok rasanya ndak efektif. Harus melalui dua kali proses yang merepotkan.
Alasannya, karena format .docx ini mendukung standar XML dan kompresi demi kemudahan berbagi dokumen. Padahal format .odt (open document text) sudah mendukung XML dan kompresi. Kenapa Microsoft malah bikin format dokumen sendiri?
Coba bayangkan, kalo misalnya Microsoft bangkrut, kemudian proyek Office Suite mereka berhenti dan celakanya format dokumen mereka tidak dibuka kepada khalayak, mau tak mau kita akan terus bergantung pada Microsoft. Tergantung pada orang lain itu sangat tidak mengenakkan, bukan?
Nah, dengan format OpenDocument, semua orang bisa melihat dan bisa membuat aplikasi untuk membaca format tersebut, tentu akan muncul banyak pilihan aplikasi untuk membaca format dokumen tersebut, bukan? Inilah keuntungan open source.
Kalo menengok ke belakang, sejarah panjang Internet tak lepas dari peran open source. Misalkan pihak militer Amerika denga ARPANET-nya saat itu tidak membuka informasi tentang sistem komunikasi mereka, tentu Internet tidak akan berkembang semacam ini.
Contoh lain adalah Linux. Andai Linus Torvalds tidak membuka source-code kernel-nya ke publik, tentu Linux tidak akan sebesar dan sedahsyat ini. Linux merupakan salah satu bukti kekuatan open source.
Dengan open source, pengembangan aplikasi menjadi lebih mudah dan cepat karena setiap orang bisa berkontribusi ke dalam proyek tersebut (serta memakainya) sehingga bisa menghemat waktu dan biaya pengetesan (dengan adanya publik sebagai beta tester).
Selain itu, banyak aplikasi akan menggunakan format data yang sama, sehingga ketika ada aplikasi baru, tidak perlu membuat format data baru. Pun demikian dengan data, jika banyak aplikasi yang bisa memanfaatkan data tersebut, makin mudah kita menggunakan data tersebut.
Jadi, kesimpulannya, jika bisa open source, kenapa harus proprietary?
Betul tuh bro, hehehe lebih mendukung Open Standard, tapi untung nya mikocok juga mensupport itu, nah sekarang gimana caranya supaya ms word dll nya kalo ngesave default ke open standard aja yah, googling dulu ahh
yah, namanya juga mikocok, bro!
bagi pengguna awam seperti saya, ketidakkompatibelan atar format dokumen dari software yang berbeda beda adalah issue yang memusingkan
itu dia. kenapa gak pakai standar yang sama ya, bro? kita sebagai user awam tinggal pakai dan ndak repot memusingkan kompatibilitas. kompatibilitas itu memang harusnya bikin pusing para programmer.. he he he
Tinggal save jadi format lain aja to. Biasanya aku save jadi .doc demi interoperabilitas yang lebih tinggi.
*pengguna Windows militan*
*ga bisa pake Linux*
*ga kuat beli Mac*
.doc mungkin saat ini masih banyak dipakai. tapi ke depannya, apakah .doc akan terus dipakai? buktinya, Microsoft aja sudah menggunakan .docx sebagai default (di Office 2007).
kalo utk ngesave ke format lain, itu juga merepotkan saya yg biasanya cuma langsung save.. :p
belajar memanfaatkan notepat dan sejenisnya :)
bahkan di leptop pribadi ndak ada opis2an :) selain OO yg juga gak pernah kepakai.
Karena open source hanya mendatangkan sedikit keuntungan dibandingkan proprietary. Namanya juga perusahaan, mereka kan nyari untung. Konsumen mestinya cerdik dengan mengajukan format standar yang harus dipenuhi kalau tidak boikot! hehehehe
Aku juga sering pusing dengan kiriman file ODT, karena di Ms Word ga ada ODT *halah*
Akhirnya pake AbiWord, import pake plugin ODT.
Anyway, hidup RTF!
kalo itu sih MS Word-nya yang sombong, kang.. he he he..
ah masak mikrosop mau bangkrut… nda mungkin ah… *urek2 muka bilget…