Pernah dengar hadits, “terlalu banyak tertawa bisa mengeraskan hati”? Kalo dipikir-pikir benar juga.
Seringkali kita merasa apa-apa itu becanda, untuk lucu-lucuan, dan akhirnya kebablasan sehingga menyakiti perasaan orang, terus dengan enteng kita minta maaf sambil cengengesan bilang, “becanda, bos!”
Kalo si orang yang dibecandain marah, ndak terima, bukannya minta maaf, tapi malah balik menyalak, “gitu aja marah.. Mutung..”
Ya ya. Kalo apa-apa dianggap becanda, lucu-lucuan, maka hati makin lama makin tidak peka. Becanda sih becanda, tapi ada batasnya.
“Trus batasnya apa, bos? Elu nya aja yang terlalu serius”, elak si tukang usil. Oke, baik, batasannya relatif. Tapi dengan melihat respon si yang diusilin udah tidak senyum, pasang muka ndak suka, menurut saya itu udah batasnya. Ndak perlu diteruskan.
Kita memang suka tertawa, terlebih menertawakan orang lain. Buktinya, acara tipi yang isinya reality show ngusilin orang kok ya laku. Acara lawak pun juga banyak yang slapstick, kasar, dan kita tertawa.
Kita mungkin sering tidak merasa, bahwa becandaan kita sering nyakitin orang. Tapi ketika kita dibecandain, ditertawakan orang, kita merasa dilecehkan, bahkan mungkin terhina.
Becanda itu banyak cara. Mengumbar aib orang, bahkan tidak membedakan mana konsumsi publik dan mana konsumsi pribadi, sepertinya sedang laku. Banyak yang suka.
Ah, apakah hati saya sudah kaku, karena banyak tertawa? Atau saya yang terlalu perasa? Entahlah.
Mari kita instropeksi diri sendiri.
wah aku jarang nonton lawakan di tv, zam…garing :P
ocha juga khawatir kalau2 hati ocha udah mulai mengeras sehingga jadi tidak peka…
*peyuk2 mas zam*
hehehe, curhat ya mas?
kalo sudah menampakkan muka tidak enak mestinya yang bercanda itu sadar, kalo yg dia becandain udah kelewatan :)
cheer up!
Apakah ini ada hubungannya dengan CurhatJakarta?
*puk-puk Zam*
Wah apalagi kalau bercandanya dibumbui pisuhan dan nama warga Gembiraloka. Ah ya, perihal menata lambe itu susahnya pol ya?
sepertinya ini ada hubungannya dengan curhat jakarta…
saya setuju sama mas Wijna.
mas’alah menjaga lambe itu susah.
apalagi hidup di lingkungan yang suka gojeg2an..
selain lambe atawa cangkem, mungkin tangan juga butuh diborgol supaya nggak nggrathil…
*sungkem*
ahahah benar itu.
jadi takut hatinya mengeras :(
gyahahahha~ pokoknya bercanda kui sama orang yang sudah sering bertemu offline ajah… kl belum tau sifatnya bisa bahaya :)
nesu ki critane??? sering tak garapi
wooo… ngono we nganti diposting!
iya, mari berinstropeksi
bener banget. kadang kita sering keterlaluan
, (keterlaluan becanda ma orang, keterlaluan sensitif jg, dan yg parah keterlaluan ga nyadar udh salh ma orang)
he2x..
salm kenal,
-yz-
lagi blog walking nch…
he2x
hahaha emang klo dah klewat batas becandanya bisa malah nyakitin orang
Setuju. Banyak orang yang ngga tau kapan harus berhenti bercanda dan kapan harus bercanda.
Kalo aku simpel.. Aku kalau sekali bercanda tidak pernah lebih dari 10 detik
klo untuk ini, lebih perasa lebih baik daripada jadi berantem akibat tertawa kita dikira penghinaan