Kita seringkali bersikap impulsif dan terusik naluri konsumtifnya ketika melihat godaan papan bertuliskan “SALE” besar-besaran. Celakanya, para bakul dan pedagang itu kok ya mengerti benar dengan naluri ini, sehingga mereka lihai sekali mengelus ego calon konsumen tersesat.
Itu pula yang terjadi pada saya kemarin. Pas dalam bus dari Jakarta ke Merak, begitu keluar tol Cilegon Barat, seorang pedagang dengan membawa sekarung besar salak naik ke dalam bus. Ya, dia pedagang salak yang ngakunya mengambil buah salaknya dari kebon sendiri sehingga berani pasang harga murah.
Harga pertama yang ditawarkan adalah 30 buah salak dijual dengan harga cukup 10 ribu rupiah. Dia bahkan mempersilakan untuk mencoba sebelum membeli. Memang, rasanya manis walau rasa sepet salak masih terasa.
Sepasang suami-istri di bangku samping saya pun membelinya.
Tak berapa lama, si penjual kembali berteriak dan mengatakan karena ingin pulang membawa uang, dia membanting harga lagi, 40 buah seharga 10 ribu rupiah. Saya melirik ke arah sepasang suam istri tersebut. Pertanyaan saya, apakah mereka “kecewa” karena membeli salak dengan harga “mahal”?
Kurang heboh lagi, penjual menurunkan harga kembali. Kali ini 50 buah dengan harga 10 ribu. Mendekati terminal akhir, harga lagi-lagi dibanting. Harga melorot drastis menjadi 30 buah seharga 5 ribu dan terakhir 40 buah seharga 5 ribu saja. Lebih gila lagi, dia menjual setengah karung salak itu dengan harga cukup 20 ribu rupiah saja!
Pertahanan saya pun jebol. Mendengar kata 5 ribu rupiah mendapat 40 nuah salak merupakan “keuntungan” yang besar, begitu pikiran saya. Apalagi ini udah deket dengan terminal akhir, harga nggak mungkin diturunkan lagi.
Untungnya logika saya masih sehat. Membawa setengah karung salak itu merupakan perbuatan bodoh dan menambah-nambahi beban saya saja, walau saya kebobolan juga untuk membeli 40 buah salak.
Uang lima ribu di saku celana pun berpindah. Saya turun menggembol seplastik salak. Saya pun turun dan menuju tempat tujuan dengan bahagia dan penuh percaya diri telah “memenangkan” perdagangan.
Setelah sampai, saya pun memakan salak yang barusan saya beli. Sompret, setan alas, genderuwo perawan! Hampir semua salak yang saya beli itu sepetnya bukan main! Yang manis nggak ada sedikitpun!
Saya curiga. Jangan-jangan salak-salak yang dijual murah, yang notabene berada di bagian bawah karung, itu sepet semua. Salak yang ada di atas dan untuk diicipi, memang sudah diset untuk memancing pembeli dengan salak yang manis.
Pantas saja harga awalnya lebih “mahal”. Sompret. Akal dan logika saya jebol gara-gara iming-iming harga murah itu. Pedagang cerdas dan tengil. Pintar membuai pembeli tersesat macam saya ini.
PS. Salak tersebut bisa diganti dengan jeruk atau buah-buah lainnya. Jadi berhati-hati.
tukang salaknya pintar,..bisa ngelamar jadi salesman di Matahari !
itu bukan impulsive buying lagi, tapi bener-bener dibodohi, zam…ga masuk logika kalo bisa semurah itu (brp biaya produksinya)
la itu dia masalahnya. itu bakul emang pinter bermanis mulut sehingga pejalan tersesat seperti saya membeli dagangannya..
Kalau saya sih makan salak dari kebon sendiri :D. Tapi ya saya ndak pernah beli buah-buahan di dalam angkutan umum gitu. Saya lebih milih di pasar Swalayan. Bukannya ndak pro pedagang kecil ya, tapi kualitas dan mutu buah-buahan di Pasar Swalayan lebih terjamin. Walau harganya lebih mahal “dikit”.
gyahahahhahahaa~
Nyehehe.. duh kesian mas zam.. hmph.. hmph *nahan kentut*