
Poster District 9
Politik apartheid yang merupakan politik rasis membeda-bedakan manusia berdasar warna kulit (putih, hitam, berwarna, dan india) yang terjadi di Afrika Selatan pada periode 1948 hingga awal 1994 kembali terulang.
Kali ini yang menjadi korban politik keji itu adalah segerombolan alien yang dijuluki prawn (karena bentuknya seperti serangga/udang). Pesawat alien yang sebesar kota itu mogok dan berhenti tepat di atas sebuah wilayah di Johannesberg, Afrika Selatan, 28 tahun yang lalu.
Para alien tersebut kemudian diungsikan ke bumi dan dimukimkan di suatu wilayah tepat di bawah kapal induk tersebut yang disebut dengan Distrik 9. Pemukiman ini kemudian lebih berkembang menjadi semacam pemukiman kumuh karena sebagian besar umat manusia menolak kehadiran mereka dan menginginkan mereka dikucilkan.

District 9
MNU (Multi Nasional United), sebuah organisasi yang memiliki misi menangani pengungsi alien ini justru bermaksud meneliti dan mencuri teknologi alien yang sangat maju ini.
Tindakan keji MNU kepada para alien yang “tidak bersalah” ini seperti menggambarkan kembali kekejian orang “kulit putih” kepada orang “kulit hitam”. Kekejian MNU ini semakin menjadi ketika salah satu agen mereka yang bernama Wikus van de Merwe (diperankan oleh aktor Afrika Selatan, Sharlto Copley) mengalami mutasi genetika ketika bertugas menangani para prawn ini.
Wikus pun diburu oleh MNU untuk diteliti karena mutasi yang dialaminya sempurna. Wikus pun lari dari MNU dan berpihak kepada Christopher Jhonson, prawn yang ternyata membangun kapal penghubung untuk kembali ke kapal induknya dan bermaksud kembali ke planet asalnya.

MNU sedang berhadapan dengan Prawn
Banyak adegan-adegan “seram” yang membuat saya sering merem dan miris. Rasa kasihan dan empati saya seperti tertampar hingga membuat saya geram atas ulah MNU itu. Geram terhadap kesewenang-wenangan manusia, bahkan kepada sesamanya.
Secara keseluruhan film yang dikemas dengan teknik mock documentary (menggabungkan unsur interview, potongan liputan berita, kamera dokumentasi, hingga kamera tersembunyi, yang tentu saja semuanya fiksi) ini keren. Film ini mampu mengaduk-aduk emosi saya, seperti ketika saya nonton film Saving Private Ryan dan Black Hawk Down.
Film ini diproduseri oleh Peter Jackson dan diperkirakan menelan biaya US$ 38 juta. Agar tampak lebih realistis, sutradara Neil Blomkamp pun mengambil setting di Soweto, sebuah wilayah urban di sebelah barat daya kota Johannesberg, Afrika Selatan.
baru sadar alamatmu ganti zam…
btw film ini keren. banyak tamparan dalam film ini, terutama bagaimana manusia memperlakukan manusia.
tapi menurut saya gak menjijikkan seperti yang teman-teman saya ceritakan sebelumnya.
nggak menjijikkan. tapi miris aja. ngilu. blog yang ini untuk senang-senang aja kok, chik..
hiks..iyo… aku sempet mbrambangi di beberapa episode…
teknik yg kek dokumenter juga sempet membuatku terbawa, kayak nonton dokumenter beneran…
*gak sabar nunggu sekuel dan prekuelnya*
hiya.. sampai gemes aku.
wis donlot suwe-suwe…
bareng disetel jebule…
bosone russia…
jan… tlembokne…