<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>muhammad zamroni &#187; Personal</title>
	<atom:link href="http://muhammad.zamroni.net/category/personal/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muhammad.zamroni.net</link>
	<description>personal playground. tempat bermain dan belajar.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Jul 2010 14:01:00 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='muhammad.zamroni.net' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
		<item>
		<title>Rezeki Penyemir Sepatu</title>
		<link>http://muhammad.zamroni.net/rezeki-penyemir-sepatu.html?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=rezeki-penyemir-sepatu</link>
		<comments>http://muhammad.zamroni.net/rezeki-penyemir-sepatu.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 20:25:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Blok M]]></category>
		<category><![CDATA[semir sepatu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammad.zamroni.net/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Kapan terakhir kali kamu melihat tukang semir sepatu? Saya melihatnya kemarin malam ketika mencari makan di Warung Lesehan Bu Gendut di emperan Blok M Square yang sudah tutup, sepulang dari acara Obrolan Langsat yang mengundang pimpinan KPK Bibit-Chandra.
Setelah memesan nasi pecel plus telor asin, saya pun duduk lesehan menghadap meja lipat. Nila yang menemani saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kapan terakhir kali kamu melihat tukang semir sepatu? Saya melihatnya kemarin malam ketika mencari makan di <a title="Warung Lesehan Bu Gendut" href="http://foursquare.com/venue/3399403" target="_blank">Warung Lesehan Bu Gendut</a> di emperan Blok M Square yang sudah tutup, sepulang dari acara <a title="Obrolan Langsat" href="http://obrolanlangsat.com/2010/06/27/rencana-diskusi-bibit-chandra-blak-blakan/" target="_blank">Obrolan Langsat</a> yang mengundang pimpinan KPK Bibit-Chandra.</p>
<p>Setelah memesan nasi pecel plus telor asin, saya pun duduk lesehan menghadap meja lipat. <a title="Cornila" href="http://cornila.matriphe.com" target="_blank">Nila </a>yang menemani saya tidak memesan apa pun kecuali es teh manis. Jam menunjukkan pukul 11 malam dan Warung Lesehan Bu Gendut udah mulai sepi.</p>
<p>Di samping meja saya duduk sekelompok anak muda yang cukup berisik. Mereka terdiri dari 4 orang pria dan 2 perempuan.</p>
<p>Tiba-tiba datang seorang anak penyemir sepatu. Salah seorang pria dari rombongan berisik di samping meja kami. Seorang di antara merek kemudian menyuruh si penyemir sepatu untuk membersihkan sandal kulit berwarna cokelatnya yang usang.</p>
<p><span id="more-250"></span>Awalnya saya tidak mempedulikan, namun sikapnya yang cukup kasar menurut saya, menyuruh dengan raut muka meremehkan kepada si anak penyemir sepatu, membuat saya makin kesal.</p>
<p>Si anak penyemir sepatu pun menyinngkir, memilih duduk di atas box kayu berisi peralatan semir, sebuah kain dan pemoles kulit, dan mulai bekerja. Si anak memilih bekerja di tengah kegelapan di samping meja peracik minuman Warung Lesehan Bu Gendut.</p>
<p>Nila pun bergumam, &#8220;Kasihan ya, anak itu. Jam segini masih saja mencari uang.&#8221; Saya pun menoleh ke arah anak penyemir sepatu. Kemudian tawa si pria yang tadi menyuruh dengan kasar itu membuat saya berpikir, yang mungkin terasa berlebihan, &#8220;Ini orang gak punya perasaan.&#8221;</p>
<p>Saya pun berdiskusi dengan Nila, apakah baik kalo misal kami memberi si penyemir sepatu uang, untuk sedikit meringankan beban. Nila berpikir bahwa niat baik kami itu bisa menjadi semacam &#8220;penghinaan&#8221; buat mereka.</p>
<p>&#8220;Wong saya mampu bekerja, kok dikasih uang tiba-tiba. Saya kan bukan pengemis&#8221;, begitu kira-kira pikiran si anak penyemir sepatu. &#8220;Ah, namun kalo memang mau niat ngasih dengan ikhas, masa mo ditolak?&#8221;, saya berargumen.</p>
<p>Anak itu selesai dengan pekerjaannya dan kembali mendekati rombongan di sebelah kami. Teman pria yang tadi menyuruhnya menyemir sandal coklat bututnya, ikut-ikutan menyuruh si anak untuk menyemirkan sandalnya juga, lagi-lagi dengan tatapan merendahkan.</p>
<p>&#8220;Jadi gimana? Kita bantu dia tanpa membuatnya tersinggung?&#8221;, saya bertanya dan kami terdiam. Nasi pecel saya sudah habis. Sembari menyeruput es teh manis, kami berpikir tentang cara membantu yang baik.</p>
<p>Si anak sudah selesai dan kembali menyerahkan hasil kerjanya. Sandal itu sudah kinclong. &#8220;Berapa?&#8221;, tanya si pria pertama. &#8220;Lima ribu, bang&#8221;, si anak menyebutkan harga. Dua lembar uang bergambar Tuanku Imam Bonjol kucel berpindah tangan. Si anak segera beranjak dari situ tanpa ucapan terima kasih, dan bergegas menuju tempat duduk tak jauh dari situ, meski tetap berada di keremangan.</p>
<p>Tak lama temannya sesama penyemir sepatu yang berbaju putih datang menghampiri. Mereka kemudian mengeluarkan uang hasil dari kerja mereka dan mulai menghitung. Karena remang-remang, tak jelas berapa lembar uang hasil kerja mereka. Kalo dari pengamatan kami, sepertinya mereka mendapat 30 ribu rupiah.</p>
<p>&#8220;Ya sudah, mending kamu tanya anak itu apa sudah makan belum. Kalo belum tawari aja makan&#8221;, Nila memberikan saran. Ah, ide yang bagus!</p>
<p>Kami sengaja duduk agak lama sambil menunggu kedua anak itu lewat. Dan ketika mereka lewat, kami pun memanggil, &#8221;Dik, sudah makan belum?&#8221; Mereka menggeleng. &#8220;Ya sudah, pesen makan sana, nanti saya yang bayar.&#8221; Saya pun segera memberi tahu mbak pelayan di Warung Lesehan Bu Gendut untuk menyediakan makan untuk kedua penyemir sepatu itu.</p>
<p>&#8220;Ini mau dibatesi berapa duit makannya, mas?&#8221;, tanya mbak pelayan warung. &#8220;Biar mereka yang milih, mbak.&#8221;</p>
<p>Saya pun kembali ke meja dan berkemas karena sekalian akan pulang. Kedua anak tadi rupanya memilih membungkus makanan mereka. Saya tak tahu menu apa yang mereka pilih, namun saya tadi sempat melhat si baju putih memilih paha ayam sebagai salah satu lauknya.</p>
<p>&#8220;Makasih&#8221;, gumam mereka lirih setelah menerima bungkusan nasi dengan wajah yang seakan tak percaya dan ragu. &#8220;Iya. Kalian cuma berdua?&#8221;, mereka pun mengangguk dan cepat-cepat pergi. Mereka seakan tergesa dan curiga dengan &#8220;sikap baik&#8221; kami yang menraktir mereka. Mereka pun tiba-tiba menghilang ketika saya selesai membayar makan malam kami.</p>
<p>Bu Gendut yang tadi memperhatikan kami nampak heran. Dia pun sampai berterima kasih kepada kami sambil agak berteriak. Sepanjang jalan pulang saya merasakan suatu perasaan yang luar biasa. Perasaan senang bercampur lega.</p>
<p>Senang karena bisa membantu kedua anak penyemir sepatu itu dan lega karena bisa menuntaskan niat tersebut menjadi perbuatan.</p>
<p>Alhamdulillah. Saya masih bisa makan dan hidup berkecukupan. Minimal tidak perlu bekerja keras seperti mereka, dengan hasil yang entah berapa.</p>
<p>Alhamdulillah. Saya bisa berbagi rezeki. Dan semoga kedua anak penyemir sepatu itu juga mendapat rezeki yang lancar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammad.zamroni.net/rezeki-penyemir-sepatu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Axis Java Jazz 2010: Tidak Hanya Masalah Musik</title>
		<link>http://muhammad.zamroni.net/axis-java-jazz-2010-tidak-hanya-masalah-musik.html?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=axis-java-jazz-2010-tidak-hanya-masalah-musik</link>
		<comments>http://muhammad.zamroni.net/axis-java-jazz-2010-tidak-hanya-masalah-musik.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 23:26:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Axis java Jazz Festival 2010]]></category>
		<category><![CDATA[jazz]]></category>
		<category><![CDATA[JJF]]></category>
		<category><![CDATA[konser]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammad.zamroni.net/?p=221</guid>
		<description><![CDATA[
Perhelatan heboh Axis Java Jazz 2010 yang berlangsung pada tanggal 5-7 Maret 2010 usai sudah. Keriuhan di JIE (Jakarta International Expo) Kemayoran Jakarta itu telah meredup, lampu-lampu telah diturunkan, dan panggung telah dibongkar.
Meski saya ndak nonton secara langsung, tapi mengikuti perhelatan tersebut di ranah Twitter, membuat saya menemukan berbagai hal menarik yang patut dicermati. Rupanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://muhammad.zamroni.net/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/03/headerjavajazz2010.jpg" alt="" title="Axis Java Jazz 2010" width="500" height="400" class="alignnone size-full wp-image-222" /></p>
<p>Perhelatan heboh Axis Java Jazz 2010 yang berlangsung pada tanggal 5-7 Maret 2010 usai sudah. Keriuhan di JIE (Jakarta International Expo) Kemayoran Jakarta itu telah meredup, lampu-lampu telah diturunkan, dan panggung telah dibongkar.</p>
<p>Meski saya ndak nonton secara langsung, tapi mengikuti perhelatan tersebut di ranah Twitter, membuat saya menemukan berbagai hal menarik yang patut dicermati. Rupanya ajang pertunjukan musik internasional itu ndak melulu cuma masalah musik (Jazz)!</p>
<p><span id="more-221"></span>Kalo ditanya apakah kamu penggemar (berat) musik Jazz, yang konon lahir pada abad ke-20 dari komunitas Afro-Amerika di selatan Amerika Serikat ini, sehingga kamu merasa kudu nonton acara Axis Java Jazz, tentu jawabannya beragam.</p>
<p>Ndak dapat dipungkiri, perhelatan akbar ini menjadi semacam ajang gaul, ajang aktualisasi diri, yang ujung-ujungnya menjadi semacam gaya hidup dan menjadi parameter tingkat &#8220;lu ke mana aje?&#8221;.</p>
<p>Tak ayal, sarana gaul masa kini, yang tak lain dan tak bukan adalah Twitter dan Facebook, menjadi penting dan tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tapi juga menjadi sarana aktualisasi diri (dengan mengupdate status &#8220;gue lagi ada di Java Jazz, nih!&#8221;, misalnya).</p>
<p>Saking pentingnya kedua layanan media sosial ini, menjadikan jalur online (via Twitter dan Facebook) menjadi jalur utama untuk berkampanye dan menanamkan brand. Bahkan beberapa blogger dan aktivis online juga &#8220;disewa&#8221; untuk ikut ambil bagian dalam promosi ini.</p>
<p>Rupanya promosi dan publikasi berhasil. Penonton membludak. Ribuan orang memadati area JIE Kemayoran. Namun sepertinya ada yang terlewatkan, yaitu masalah sinyal seluler!</p>
<p>Panitia mungkin lupa, bahwa dari ribuan pengunjung yang mengunjungi perhelatan ini membutuhkan piranti aktualisasi diri. Berbekal gadget untuk mengupdate status terkini, mengunggah foto di venue, hingga menghubungi teman-teman ketika terpisah dari rombongan, para pengunjung membutuhkan sinyal dan layanan data yang memadai.</p>
<p>BTS operator pun overload. Axis, sebagai sponsor utama mungkin sudah mempersiapkan infrastrukturnya dengan menambah kapasitas BTS di kawasan tersebut, namun pengguna operator lainnya? Mereka sewot dan bahkan tesiar isu, mulai dari pemblokiran sinyal operator lain hingga sterilisasi karena presiden dan wakil presiden juga mengunjungi event ini.</p>
<p>Para pengunjung pun marah-marah di Twitter akibat sinyal ilang. Mereka mengaku tidak bisa melakukan apa-apa, mulai dari melakukan komunikasi (telepon dan sms) hingga para pekerja media online yang kesusahan melakukan reportase secara langsung.</p>
<p>Berbagai komplain soal sinyal di Twitter ini akhirnya ditanggapi oleh panitia melalui Twitter. &#8220;Nikmati acaranya, tak usah memikirikan sinyal,&#8221; demikian kira-kira isi tweet panitia. Tweet ini langsung mendapat respon negatif di ranah Twitter. Panitia, dalam hal ini tidak boleh &#8220;menyalahkan&#8221; pengunjung.</p>
<p>Akan lebih baik kalo pihak panitia memberikan penjelasan mengenai persoalan hilangnya sinyal. Misal dengan memberi tahu bahwa BTS mengalami overquota, hingga memberikan tips-tips untuk mengatasi kegagalan komunikasi, dan jangan lupa sertakan kata &#8220;maaf&#8221; akibat ketidaknyamanan yang terjadi. Saya kira ini lebih berguna dan pengunjung mungkin bisa maklum.</p>
<p>Memang dalam setiap perhelatan tentu akan selalu terjadi masalah. Selain mengatasi masalah tersebut, berikan penjelasan dan informasi sehingga pengunjung dan penonton bisa memaklumi. Informasi seperti ini yang mungkin perlu di-push oleh panitia kepada para pengunjung, tidak melulu hanya melakukan promosi.</p>
<p>Twitter sebagai jalur dua arah, akhirnya bisa menjadi ajang komplain, sehingga mau ndak mau, akun Twitter selain jadi ajang promosi juga menjadi ajang &#8220;customer service&#8221;. Pemegang akun pun juga tentu harus tahu, kapan melakukan promosi dan kapan menerima keluhan.</p>
<p>Ke depannya, ada baiknya pihak panitia berkoordinasi dengan lebih bagus. Meski acara ini disponsori oleh salah satu operator seluler, saya kira tidak ada salahnya &#8220;meminta bantuan&#8221; kepada operator seluler lain untuk ikut menyukseskan acara. Ujung-ujungnya, nama operator itu juga bakal terpromosi, ketika misal sinyal operator lain jeblok, tapi sinyal dia tetep kuat (bahkan lebih parah, sinyal operator sponsor lebih buruk dari sinyal operator kompetitor).</p>
<p>Selain membantu peningkatan kapasitas secara temporary, ada baiknya operator seluler juga memikirkan investasi untuk membangun jaringan data yang layak di kawasan JIE Kemayoran, karena lokasi ini akan sering menjadi lokasi berbagai perhelatan.</p>
<p>Di JCC Senayan, yang juga sering digunakan sebagai lokasi perhelatan, cakupan dan kapasitas BTS di sana sudah cukup memadai. Apalagi di kawasan itu sudah didukung jaringan data yang besar, karena mungkin JCC dekat dengan lokasi perkantoran.</p>
<p>Semoga postingan ini bisa jadi masukan, sehingga ke depan acara serupa ndak menemui masalah yang sama. <img src='http://muhammad.zamroni.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Baca juga: <a href="http://curipandang.com/baca/2010/03/09/saran-kritik-untuk-java-jazz-2010.html" title="Saran &#038; Kritik Untuk Java Jazz 2010" target="_blank">Saran &#038; Kritik Untuk Java Jazz 2010</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammad.zamroni.net/axis-java-jazz-2010-tidak-hanya-masalah-musik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Bercanda!</title>
		<link>http://muhammad.zamroni.net/mari-bercanda.html?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=mari-bercanda</link>
		<comments>http://muhammad.zamroni.net/mari-bercanda.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 14:48:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammad.zamroni.net/mari-bercanda.html</guid>
		<description><![CDATA[Pernah dengar hadits, &#8220;terlalu banyak tertawa bisa mengeraskan hati&#8221;? Kalo dipikir-pikir benar juga.
Seringkali kita merasa apa-apa itu becanda, untuk lucu-lucuan, dan akhirnya kebablasan sehingga menyakiti perasaan orang, terus dengan enteng kita minta maaf sambil cengengesan bilang, &#8220;becanda, bos!&#8221;
Kalo si orang yang dibecandain marah, ndak terima, bukannya minta maaf, tapi malah balik menyalak, &#8220;gitu aja marah.. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah dengar hadits, &#8220;terlalu banyak tertawa bisa mengeraskan hati&#8221;? Kalo dipikir-pikir benar juga.</p>
<p>Seringkali kita merasa apa-apa itu becanda, untuk lucu-lucuan, dan akhirnya kebablasan sehingga menyakiti perasaan orang, terus dengan enteng kita minta maaf sambil cengengesan bilang, &#8220;becanda, bos!&#8221;</p>
<p>Kalo si orang yang dibecandain marah, ndak terima, bukannya minta maaf, tapi malah balik menyalak, &#8220;gitu aja marah.. Mutung..&#8221;</p>
<p>Ya ya. Kalo apa-apa dianggap becanda, lucu-lucuan, maka hati makin lama makin tidak peka. Becanda sih becanda, tapi ada batasnya.</p>
<p>&#8220;Trus batasnya apa, bos? Elu nya aja yang terlalu serius&#8221;, elak si tukang usil. Oke, baik, batasannya relatif. Tapi dengan melihat respon si yang diusilin udah tidak senyum, pasang muka ndak suka, menurut saya itu udah batasnya. Ndak perlu diteruskan.</p>
<p>Kita memang suka tertawa, terlebih menertawakan orang lain. Buktinya, acara tipi yang isinya reality show ngusilin orang kok ya laku. Acara lawak pun juga banyak yang slapstick, kasar, dan kita tertawa.</p>
<p>Kita mungkin sering tidak merasa, bahwa becandaan kita sering nyakitin orang. Tapi ketika kita dibecandain, ditertawakan orang, kita merasa dilecehkan, bahkan mungkin terhina.</p>
<p>Becanda itu banyak cara. Mengumbar aib orang, bahkan tidak membedakan mana konsumsi publik dan mana konsumsi pribadi, sepertinya sedang laku. Banyak yang suka.</p>
<p>Ah, apakah hati saya sudah kaku, karena banyak tertawa? Atau saya yang terlalu perasa? Entahlah.</p>
<p>Mari kita instropeksi diri sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammad.zamroni.net/mari-bercanda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Impulse Buying</title>
		<link>http://muhammad.zamroni.net/impulse-buying.html?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=impulse-buying</link>
		<comments>http://muhammad.zamroni.net/impulse-buying.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 04:27:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[salak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammad.zamroni.net/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Kita seringkali bersikap impulsif dan terusik naluri konsumtifnya ketika melihat godaan papan bertuliskan &#8220;SALE&#8221; besar-besaran. Celakanya, para bakul dan pedagang itu kok ya mengerti benar dengan naluri ini, sehingga mereka lihai sekali mengelus ego calon konsumen tersesat.
Itu pula yang terjadi pada saya kemarin. Pas dalam bus dari Jakarta ke Merak, begitu keluar tol Cilegon Barat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita seringkali bersikap impulsif dan terusik naluri konsumtifnya ketika melihat godaan papan bertuliskan &#8220;SALE&#8221; besar-besaran. Celakanya, para bakul dan pedagang itu kok ya mengerti benar dengan naluri ini, sehingga mereka lihai sekali mengelus ego calon konsumen tersesat.</p>
<p>Itu pula yang terjadi pada saya kemarin. Pas dalam bus dari Jakarta ke Merak, begitu keluar tol Cilegon Barat, seorang pedagang dengan membawa sekarung besar salak naik ke dalam bus. Ya, dia pedagang salak yang ngakunya mengambil buah salaknya dari kebon sendiri sehingga berani pasang harga murah.</p>
<p>Harga pertama yang ditawarkan adalah 30 buah salak dijual dengan harga cukup 10 ribu rupiah. Dia bahkan mempersilakan untuk mencoba sebelum membeli. Memang, rasanya manis walau rasa sepet salak masih terasa.<br />
Sepasang suami-istri di bangku samping saya pun membelinya.</p>
<p><span id="more-144"></span>Tak berapa lama, si penjual kembali berteriak dan mengatakan karena ingin pulang membawa uang, dia membanting harga lagi, 40 buah seharga 10 ribu rupiah. Saya melirik ke arah sepasang suam istri tersebut. Pertanyaan saya, apakah mereka &#8220;kecewa&#8221; karena membeli salak dengan harga &#8220;mahal&#8221;?</p>
<p>Kurang heboh lagi, penjual menurunkan harga kembali. Kali ini 50 buah dengan harga 10 ribu. Mendekati terminal akhir, harga lagi-lagi dibanting. Harga melorot drastis menjadi 30 buah seharga 5 ribu dan terakhir 40 buah seharga 5 ribu saja. Lebih gila lagi, dia menjual setengah karung salak itu dengan harga cukup 20 ribu rupiah saja!</p>
<p>Pertahanan saya pun jebol. Mendengar kata 5 ribu rupiah mendapat 40 nuah salak merupakan &#8220;keuntungan&#8221; yang besar, begitu pikiran saya.  Apalagi ini udah deket dengan terminal akhir, harga nggak mungkin diturunkan lagi.</p>
<p>Untungnya logika saya masih sehat. Membawa setengah karung salak itu merupakan perbuatan bodoh dan menambah-nambahi beban saya saja, walau saya kebobolan juga untuk membeli 40 buah salak.</p>
<p>Uang lima ribu di saku celana pun berpindah. Saya turun menggembol seplastik salak. Saya pun turun dan menuju tempat tujuan dengan bahagia dan penuh percaya diri telah &#8220;memenangkan&#8221; perdagangan.</p>
<p>Setelah sampai, saya pun memakan salak yang barusan saya beli. Sompret, setan alas, genderuwo perawan! Hampir semua salak yang saya beli itu sepetnya bukan main! Yang manis nggak ada sedikitpun! <img src='http://muhammad.zamroni.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/angry.gif' alt='(angry)' class='wp-smiley' /> <img src='http://muhammad.zamroni.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/idiot.gif' alt='(idiot)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Saya curiga. Jangan-jangan salak-salak yang dijual murah, yang notabene berada di bagian bawah karung, itu sepet semua. Salak yang ada di atas dan untuk diicipi, memang sudah diset untuk memancing pembeli dengan salak yang manis.</p>
<p>Pantas saja harga awalnya lebih &#8220;mahal&#8221;. Sompret. Akal dan logika saya jebol gara-gara iming-iming harga murah itu. Pedagang cerdas dan tengil. Pintar membuai pembeli tersesat macam saya ini.</p>
<p>PS. Salak tersebut bisa diganti dengan jeruk atau buah-buah lainnya. Jadi berhati-hati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammad.zamroni.net/impulse-buying.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Batik</title>
		<link>http://muhammad.zamroni.net/batik.html?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=batik</link>
		<comments>http://muhammad.zamroni.net/batik.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 12:46:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[heritage]]></category>
		<category><![CDATA[UNESCO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammad.zamroni.net/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[Batik tulis hari ini telah resmi mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Tapi bagaimanakah dengan nasib batik cap (yang dikerjakan oleh manusia)?
Meski effort yang dibutuhkan tidak sebesar dalam membuat batik tulis, membuat batik cap itu cukup berat juga. Sebuah alat dengan motif batik tertentu dicelupkan ke dalam cairan lilin kemudian motif tersebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_136" class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-136 " title="Berbatik" src="http://muhammad.zamroni.net/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/10/batikan.jpg" alt="Paling ganteng!!" width="400" height="237" /><p class="wp-caption-text">Paling ganteng!!</p></div>
<p>Batik tulis hari ini telah resmi mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Tapi bagaimanakah dengan nasib batik cap (yang dikerjakan oleh manusia)?</p>
<p>Meski <em>effort</em> yang dibutuhkan tidak sebesar dalam membuat batik tulis, membuat batik cap itu cukup berat juga. Sebuah alat dengan motif batik tertentu dicelupkan ke dalam cairan lilin kemudian motif tersebut di-cap-kan dalam selembar kain. Proses ini dilakukan berulang-ulang sehingga terbentuk sebuah batik yang cantik.</p>
<p>Batik cap konon mulai dikenal sejak tahun 1920-an. Dengan teknik batik cap, proses pembuatan pola ke kain batik bisa lebih cepat. Kain-kain batik yang selesai dicap ini akan melalui proses yang sama dengan proses pada batik tulis, yaitu mencelupkan kain ke dalam zat warna dan kemudian melepaskan lilin (<em>nglorot</em>).</p>
<p>Nah, kapan kah teknik batik cap ini juga akan &#8220;diakui&#8221; menjadi milik Indonesia? Jangan sampai kita mencak-mencak lagi gara-gara negara tetangga lebih &#8220;kreatif&#8221;.  <img src='http://muhammad.zamroni.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/idiot.gif' alt='(idiot)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammad.zamroni.net/batik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Update Blog</title>
		<link>http://muhammad.zamroni.net/update-blog.html?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=update-blog</link>
		<comments>http://muhammad.zamroni.net/update-blog.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 15:30:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogging]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammad.zamroni.net/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Pas mudik Lebaran kemarin, sebenernya ada banyak materi yang pengen saya postingkan, baik di blog ini dan di blog jengjeng. Cuma saya bingung mulai dari mana karena bahannya terlalu banyak.
Riwil, ya? Mungkin. Tidak ada bahan posting, pusing. Kebanyakan bahan postingan, bingung mengawalinya. Dasar blogger malas!
Baiklah, saya akan coba memperbarui blog-blog tersebut secara bertahap, deh! Dimulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pas mudik Lebaran kemarin, sebenernya ada banyak materi yang pengen saya postingkan, baik di blog ini dan di <a title="jengjeng matriphe!" href="http://jengjeng.matriphe.com/" target="_blank">blog jengjeng</a>. Cuma saya bingung mulai dari mana karena bahannya terlalu banyak.</p>
<p>Riwil, ya? Mungkin. Tidak ada bahan posting, pusing. Kebanyakan bahan postingan, bingung mengawalinya. Dasar blogger malas!</p>
<p>Baiklah, saya akan coba memperbarui blog-blog tersebut secara bertahap, deh! Dimulai dengan postingan ini..  <img src='http://muhammad.zamroni.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/taser.gif' alt='(taser)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammad.zamroni.net/update-blog.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penjajahan ala Kumpeni Seluler</title>
		<link>http://muhammad.zamroni.net/penjajahan-ala-kumpeni-seluler.html?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=penjajahan-ala-kumpeni-seluler</link>
		<comments>http://muhammad.zamroni.net/penjajahan-ala-kumpeni-seluler.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 16:35:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[bandwidth]]></category>
		<category><![CDATA[BlackBerry]]></category>
		<category><![CDATA[konsumen]]></category>
		<category><![CDATA[seluler]]></category>
		<category><![CDATA[Telkomsel]]></category>
		<category><![CDATA[XL]]></category>
		<category><![CDATA[YLKI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammad.zamroni.net/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Seorang rekan marah-marah dan memaki-maki sebuah operator seluler terbesar di Indonesia karena dengan semena-mena menurunkan kuota penggunaannya dari 2 GB menjadi &#8220;cuma&#8221; 500 MB. Terang saja dia mencak-mencak. Bayangkan, baru sebulan dia berlanggan paket modem bundling (unlimited dengan gratis modem) dengan fair usage 2 GB, tiba-tiba diturunkan menjadi 500 MB.
Cukup lama pihak operator baru merespon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang rekan marah-marah dan memaki-maki <a title="Pelanggan Kecewa, Telkomsel Menurunkan Kuota Fair Usage dari 2GB Jadi 500 MB" href="http://kabarit.com/2009/09/pelanggan-kecewa-telkomsel-menurunkan-kuota-fair-usage-dari-2gb-jadi-500-mb/" target="_blank">sebuah operator seluler terbesar di Indonesia karena dengan semena-mena menurunkan kuota penggunaannya dari 2 GB menjadi &#8220;cuma&#8221; 500 MB</a>. Terang saja dia mencak-mencak. Bayangkan, baru sebulan dia berlanggan paket modem bundling (unlimited dengan gratis modem) dengan fair usage 2 GB, tiba-tiba diturunkan menjadi 500 MB.</p>
<p>Cukup lama pihak operator baru merespon padahal keluhan ini sudah memenuhi berbagai milis dan forum. Membaca <a title=" Alasan Telkomsel 'Sunat' Kuota Bandwidth" href="http://id.news.yahoo.com/dtik/20090916/ttc-alasan-telkomsel-sunat-kuota-bandwid-f0a1c5d.html" target="_blank">jawaban dari pihak operator</a>, saya ngakak bukan kepalang. Sebuah jawaban yang klise, tidak memberikan solusi, dan terkesan cuci tangan. Sebuah jawaban yang <em>blunder</em>.</p>
<p>Berikut ini komentar saya menanggapi jawaban dari Manager Data and Broadband Service Telkomsel, Arief Pradetya tersebut.</p>
<p><span id="more-117"></span></p>
<blockquote><p>&#8220;Pemberlakukan ini didasarkan pada data perilaku pengguna Telkomsel Flash, di mana 60% rata-rata menggunakan data 500 MB per bulan,&#8221; sebut Manager Data and Broadband Service Telkomsel, Arief Pradetya, dalam rilis yang dikutip detikINET, Rabu (16/9/2009).</p>
<p>&#8230;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya data sebesar 500 MB sudah cukup untuk penggunaan normal pelanggan, baik untuk keperluan browsing, chatting maupun downloading secara terpisah,&#8221; ujarnya.</p>
<p>&#8220;Sebagai gambaran, pelanggan dapat melakukan browsing 1000 halaman web (rata-rata 500 kB), download 1.000 lagu (rata-rata 5 MB), 10.000 e-mail (rata-rata 50 kB), chatting 500 ribu baris atau mengunduh 500 foto (rata-rata 1 MB),&#8221; papar dia lebih lanjut.</p></blockquote>
<p>Ini sangat lucu. Saya saja yang beraktivitas browsing, blogging, kadang-kadang membuka Youtube, donwload/upload seperlunya (intinya seperti pengguna Internet biasa), pemakaian sebulan bisa di atas 1 GB.</p>
<p>Boleh dibilang, kuota 2 GB itu kuota yang &#8220;cukup&#8221; untuk melakukan aktivitas berinternet seperlunya.</p>
<p>Saya bukan pengguna Telkomsel Flash (menggunakan produk dari <a title="Indosat M2 Prime Unlimited" href="http://indosatm2.com/index.php/consumer-solution/internet-services/postpaid/im2-broadband-35g/eco" target="_blank">operator lain</a>), sehingga kalo membandingkan antara harga, kuota, dan kecepatan akses, paket <a title="Telkomsel Product &amp; Pricing" href="http://www.telkomsel.com/web/product_and_pricing" target="_blank">Telkomsel Flash Basic</a> ini terlalu mahal.</p>
<blockquote><p>Pemberlakukan ini didasarkan pada keinginan untuk membatasi 10% <em>abusive user</em> yang secara dominan menghabiskan <em>resources network</em> dengan penggunaan hingga puluhan bahkan ratusan GB yang mengakibatkan gangguan terhadap pengguna lain karena menyebabkan penurunan kualitas secara signifikan.</p></blockquote>
<p>Saya rasa hal ini sangat tidak bijaksana. Bila memang <em>resources</em>-nya kurang, seharusnya ditambah, bukan dengan &#8220;merugikan&#8221; pelanggan lainnya.</p>
<p>Sebagai operator seluler terbesar, seharusnya Telkomsel sudah memprediksikan dan menghitung <em>resources</em>-nya. Mengejar jumlah pengguna namun tidak memperhitungkan <em>resources</em> adalah hal yang fatal. Gampangannya, kalo ndak kuat, ndak usah bikin layanan.</p>
<p>Dari pengalaman beberapa teman yang kebetulan &#8220;memegang kendali&#8221; jaringan, biasanya penggunaan <em>resources</em> yang melebihi batas ini justru dilakukan oleh orang-orang dalam, alias si administrator jaringan atau orang yang mempunyai akses jaringan tersebut.</p>
<p>Ini bukan menuduh, namun demikian pengakuan beberapa orang teman yang bekerja pada sebuah ISP. Jika memang benar karena ini penyebabnya, rasanya kurang bijaksana kalo dampak ini ditanggung oleh pengguna. Pengguna bisa menuntut ke jalur hukum dengan mengajukan <em>class action</em> kalo begini ceritanya.</p>
<p>Menurut saya, pengguna biasa tidak akan mampu mengunduh data sebegitu besar karena modem-modem semacam ini mempunyai keterbatasan. Modem-modem ini akan panas ketika mengakses jaringan HSDPA atau 3G. Biasanya, ketika modem sudah teramat panas, koneksi bisa terputus sehingga untuk mengunduh data sebegitu besar amat kecil kemungkinannya.</p>
<p>Kemungkinan lainnya, ada kekacauan di sistem billing Telkomsel. Bisa jadi, &#8220;rules-rules&#8221; paket tersebut kacau (karena saking banyaknya pelanggan). Misalnya, paket A yang harusnya cuma dapet 1 MB bisa dapet jatah 5 MB. Kemungkinan ini bisa saja terjadi.</p>
<p>Dugaan lainnya (karena ndak ada bukti jelas), Telkomsel ingin ngirit bandwidth, sehingga alokasi bandwidth ini dialokasikan ke hal lainnya, misal untuk mengantisipasi lonjakan traffik menjelang Lebaran. <img src='http://muhammad.zamroni.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/thinking.gif' alt='(thinking)' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>&#8220;Jika dirasa 500 MB tetap kurang, Telkomsel juga menyediakan Paket Advance dan Pro dengan Fair Use 1GB dan 2GB. Pelanggan dapat memilih sesuai pola pemakaiannya,&#8221; demikian Arief menambahkan.</p></blockquote>
<p>Jawaban ini menurutku menunjukkan arogansi Telkomsel. Bukannya memberikan kompensasi (misal dengan memangkas biayanya menjadi seperempat), tapi justru makin &#8220;memeras&#8221; pelanggan dengan tawaran paket yang lebih mahal. Kesannya, Telkomsel hendak &#8220;cuci tangan&#8221; dan tidak mau memberi kompensasi.</p>
<p>Menyunat hak konsumen tanpa kompensasi adalah penjajahan. Kumpeni! Apalagi, pelanggan tetap membayar dengan harga yang sama sebelum kuota dipangkas.</p>
<p>Telkomsel harusnya juga menurunkan harga sewanya, tidak membayar 125 ribu rupiah per bulan, tapi sekitar 50/75 ribu per bulan (itu pun Telkomsel udah untung). Mari kita hitung dengan cara sederhana.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Rp 125.000 / 2.000 MB = Rp 62,5 / MB<br />
Jika menggunakan harga MB yang sama, 500 MB x Rp 62,5 = Rp 31.250<br />
Kalo dijual paket 500 MB seharga Rp 75.000 saja, udah untung banyak tuh!</p>
<blockquote><p>Dengan pemberlakukan fair usage baru dan tambahan frekuensi 3G, Telkomsel menyatakan harapannya dapat melayani lebih banyak pelanggan internet dengan layanan mobile broadband.</p></blockquote>
<p>Errghh.. Bukannya para pelanggan malah lari, ya?</p>
<p>Temen saya itu sebenernya pengen langsung pindah operator, tapi karena dia baru memakai 1 bulan dari kontrak yang 12 bulan, terpaksa dia meneruskan layanan ini. La kalo dia memutus kontrak, sisa 11 bulannya dia tetep diminta mbayar.</p>
<blockquote><p>Pelanggan Telkomsel Flash kini berjumlah 1,2 juta atau meningkat 500% dibanding akhir 2008 lalu. Telkomsel mengklaim telah menghadirkan bandwidth dengan kapasitas yang mampu melayani tiga juta pelanggan Flash hingga akhir tahun ini.</p></blockquote>
<p>Lalu, kenapa di awal mereka mengaku resources-nya bisa habis hanya karena ulah 10% semua pelanggan mendapatkan getahnya? Karena nila setitik, rusak susu <span style="text-decoration: line-through;">sebelahnya</span> sebelanga?</p>
<p>Seharusnya, Telkomsel bisa melacak siapa pengguna-pengguna nakal tersebut dan memberikan hukuman kepada mereka, bukannya dengan memangkas kuota.</p>
<p>Kasus semacam ini mungkin tidak hanya menimpa pelanggan Telkomsel. Pengguna operator lainnya kemungkinan juga pernah mengalami hal yang sama.</p>
<p>Seperti kemarin, pengguna XL BlackBerry tetap dipotong pulsanya padahal layanan BlackBerry-nya tidak bisa dipakai karena <a title="Kapasitas Di-upgrade, Jaringan BlackBerry XL Ngadat" href="http://www.detikinet.com/read/2009/09/14/135811/1203125/328/kapasitas-di-upgrade" target="_blank">XL sedang meng-upgrade jaringannya</a>. Namun XL rupanya &#8220;lebih bijak&#8221; dengan <a title="Jalur Blackberry Bermasalah, XL Tawarkan Kompensasi" href="http://www.tempointeraktif.com/hg/it/2009/09/16/brk,20090916-198348,id.html" target="_blank">memberikan kompensasi</a> atas kesalahannya tersebut.</p>
<p>Sudah seharusnya konsumen mendapatkan hak-haknya, bukan hanya sekedar pasrah dan cuma bisa misuh-misuh melalui jalur <em>costumer service</em> yang biasanya cuma dijawab oleh mesin atau manusia yang bertindak kayak mesin.</p>
<p>Bila perlu, <a title="YLKI - Pengaduan Konsumen" href="http://www.ylki.or.id/infos/view/pengaduan-konsumen" target="_blank">layangkan pengaduan ke YLKI</a> rame-rame supaya bisa diurus dan hak konsumen bisa dikembalikan. Penjajahan kumpeni harus dilawan!</p>
<p><em>Disclaimer:</em> Saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan Telkomsel, tapi hanya mencoba memberikan opini atas jawaban dari Telkomsel terhadap keluhan pelanggan yang menurut saya kurang bijaksana.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammad.zamroni.net/penjajahan-ala-kumpeni-seluler.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Proprietary VS Open Source</title>
		<link>http://muhammad.zamroni.net/proprietary-vs-open-source.html?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=proprietary-vs-open-source</link>
		<comments>http://muhammad.zamroni.net/proprietary-vs-open-source.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 23:11:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[docx]]></category>
		<category><![CDATA[Linux]]></category>
		<category><![CDATA[Microsoft]]></category>
		<category><![CDATA[MS Word]]></category>
		<category><![CDATA[odt]]></category>
		<category><![CDATA[open source]]></category>
		<category><![CDATA[OpenOffice]]></category>
		<category><![CDATA[proprietary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammad.zamroni.net/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Kalo Raffaell marah-marah karena beberapa piranti menggunakan konektor proprietary, saya sering sebel juga dengan sistem operasi dan aplikasi yang punya format dokumen sendiri-sendiri. Kenapa sih aplikasi itu tidak menggunakan format dokumen yang seragam untuk fungsinya?
Contohnya nih, Microsoft Word 2007 mulai menggunakan format dokumen .docx yang merepotkan pengguna aplikasi pengolah teks semacam OpenOffice.Org atau Microsoft Word [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo <a title="Proprietary VS Standard" href="http://www.myraffaell.com/blog/proprietary-vs-standard/" target="_blank">Raffaell marah-marah karena beberapa piranti menggunakan konektor <em>proprietary</em></a>, saya sering sebel juga dengan sistem operasi dan aplikasi yang punya format dokumen sendiri-sendiri. Kenapa sih aplikasi itu tidak menggunakan format dokumen yang seragam untuk fungsinya?</p>
<p>Contohnya nih, <a title="MS Word 2007" href="http://office.microsoft.com/en-us/word/FX100649251033.aspx" target="_blank">Microsoft Word 2007</a> mulai menggunakan format dokumen <a title="File Extension .DOCX Details" href="http://filext.com/file-extension/DOCX" target="_blank">.docx</a> yang merepotkan pengguna aplikasi pengolah teks semacam <a title="OpenOffice.Org" href="http://openoffice.org/" target="_blank">OpenOffice.Org</a> atau Microsoft Word yang lebih rendah versinya. Mau tak mau, kita harus menggunakan aplikasi MS Word 2007 tersebut dan harus <a title="Buy Microsoft Office 2007" href="http://office.microsoft.com/en-us/products/FX101211561033.aspx" target="_blank">membeli seharga sekitar US $ 150 (harga pelajar)</a>! Itu pun kita harus membeli seluruh paket Office, ndak bisa cuma beli MS Word-nya saja.  <img src='http://muhammad.zamroni.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/idiot.gif' alt='(idiot)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Memang sih, kita bisa pakai <a title="Search Google: docx converter free" href="http://www.google.com/search?q=docx+converter+free" target="_blank">aplikasi converter</a>, namun kok rasanya ndak efektif. Harus melalui dua kali proses yang merepotkan.</p>
<p><span id="more-93"></span>Alasannya, karena format .docx ini mendukung standar XML dan kompresi demi kemudahan berbagi dokumen. Padahal format <a title="File Extension .ODT Details" href="http://filext.com/file-extension/ODT" target="_blank">.odt (open document text)</a> sudah mendukung XML dan kompresi. Kenapa Microsoft malah bikin format dokumen sendiri?</p>
<p>Coba bayangkan, kalo misalnya Microsoft bangkrut, kemudian proyek Office Suite mereka berhenti dan celakanya format dokumen mereka tidak dibuka kepada khalayak, mau tak mau kita akan terus bergantung pada Microsoft. Tergantung pada orang lain itu sangat tidak mengenakkan, bukan?</p>
<p>Nah, dengan format OpenDocument, semua orang bisa melihat dan bisa membuat aplikasi untuk membaca format tersebut, tentu akan muncul banyak pilihan aplikasi untuk membaca format dokumen tersebut, bukan? Inilah keuntungan <em>open source</em>.</p>
<p>Kalo menengok ke belakang, sejarah panjang Internet tak lepas dari peran <em>open source</em>. Misalkan pihak militer Amerika denga ARPANET-nya saat itu tidak membuka informasi tentang sistem komunikasi mereka, tentu Internet tidak akan berkembang semacam ini.</p>
<p>Contoh lain adalah <a title="Linux" href="http://www.linux.org/" target="_blank">Linux</a>. Andai <a title="Linus Torvalds" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Linus_Torvalds" target="_blank">Linus Torvalds</a> tidak membuka <em>source-code kernel</em>-nya ke publik, tentu Linux tidak akan sebesar dan sedahsyat ini. Linux merupakan salah satu bukti kekuatan <em>open source</em>.</p>
<p>Dengan <em>open source</em>, pengembangan aplikasi menjadi lebih mudah dan cepat karena setiap orang bisa berkontribusi ke dalam proyek tersebut (serta memakainya) sehingga bisa menghemat waktu dan biaya pengetesan (dengan adanya publik sebagai <em>beta tester</em>).</p>
<p>Selain itu, banyak aplikasi akan menggunakan format data yang sama, sehingga ketika ada aplikasi baru, tidak perlu membuat format data baru. Pun demikian dengan data, jika banyak aplikasi yang bisa memanfaatkan data tersebut, makin mudah kita menggunakan data tersebut.</p>
<p>Jadi, kesimpulannya, jika  bisa open source, kenapa harus <em>proprietary</em>?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammad.zamroni.net/proprietary-vs-open-source.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>9 September 2009 (09.09.09)</title>
		<link>http://muhammad.zamroni.net/9-september-2009-09-09-09.html?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=9-september-2009-09-09-09</link>
		<comments>http://muhammad.zamroni.net/9-september-2009-09-09-09.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 02:09:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[9]]></category>
		<category><![CDATA[angka]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[number]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammad.zamroni.net/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Ada apa dengan tanggal 9 bulan 9 tahun 2009 alias 9-9-9 (yang kalo lebih ekstrim boleh ditambahkan jam 9 menit ke-9 dan detik ke-9). Sebagian ada yang beranggapan bahwa angka 9 adalah angka sempurna, angka keberuntungan, angka kebaikan, namun sebagian lagi (seperti saya) menganggapnya biasa saja.
Ada juga yang bilang pada tanggal 9 September 2009, adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada apa dengan tanggal 9 bulan 9 tahun 2009 alias 9-9-9 (yang kalo lebih ekstrim boleh ditambahkan jam 9 menit ke-9 dan detik ke-9). Sebagian ada yang beranggapan bahwa angka 9 adalah angka sempurna, angka keberuntungan, angka kebaikan, namun sebagian lagi (seperti saya) menganggapnya biasa saja.</p>
<div id="attachment_84" class="wp-caption alignnone" style="width: 388px"><img class="size-full wp-image-84  " title="Kata Google tentang 9 September 2009" src="http://muhammad.zamroni.net/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/09/google-9-sept-2009.gif" alt="Kata Google tentang 9 September 2009" width="378" height="239" /><p class="wp-caption-text">Kata Google tentang 9 September 2009</p></div>
<p>Ada juga yang bilang pada tanggal 9 September 2009, adalah hari kiamat. Saya tersenyum geli membaca <a title="Ramalan Mama Laurent 9 September 2009" href="http://ceritacinta-di.blogspot.com/2009/09/ramalan-mama-laurent-9-september-2009.html" target="_blank">ramalan Mama Laurent</a> soal terjadi gempa besar pada hari ini.  <img src='http://muhammad.zamroni.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/silly_couple.gif' alt='(hassle)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Meski pun lempeng di selatan Indonesia sedang aktif-aktifnya akhir-akhir ini, rasanya lucu saja kalo ada orang yang bisa memprediksikan gempa. Padahal gempa itu gejala alam yang ndak bisa diprediksikan. Waspada sih boleh-boleh aja, tapi kalo udah ramal-meramal, rasanya kok sudah ngawur dan cenderung meresahkan.  <img src='http://muhammad.zamroni.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/taser.gif' alt='(taser)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Mari kita lihat apa yang akan terjadi hari ini.  <img src='http://muhammad.zamroni.net/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/scenic.gif' alt='(scenic)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammad.zamroni.net/9-september-2009-09-09-09.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bentuk Tubuh Wanita Ideal?</title>
		<link>http://muhammad.zamroni.net/bentuk-tubuh-wanita-ideal.html?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=bentuk-tubuh-wanita-ideal</link>
		<comments>http://muhammad.zamroni.net/bentuk-tubuh-wanita-ideal.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 11:40:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[fabulous]]></category>
		<category><![CDATA[ideal]]></category>
		<category><![CDATA[survey]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammad.zamroni.net/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Sebenernya bentuk tubuh wanita yang ideal itu bagaimana sih? Bukan hanya secara teori hitungan lo, ya.. Rupanya cewek dan cowok itu punya pemikiran berbeda tentang bentuk tubuh ideal. Cowok, biasanya suka dengan wanita dengan bentuk tubuh yang montok dan padat. Sedangkan cewek, cenderung suka dengan bentuk tubuh langsing yang cenderung kurus.
Terlepas dari tren bentuk tubuh, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_70" class="wp-caption alignnone" style="width: 412px"><img class="size-full wp-image-70 " title="Bentuk tubuh yang ideal yang mana?" src="http://muhammad.zamroni.net/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/09/body-blur.jpg" alt="Bentuk tubuh yang ideal yang mana?" width="402" height="406" /><p class="wp-caption-text">Bentuk tubuh yang ideal yang mana?</p></div>
<p>Sebenernya bentuk tubuh wanita yang ideal itu bagaimana sih? Bukan hanya secara teori hitungan lo, ya.. Rupanya cewek dan cowok itu punya pemikiran berbeda tentang bentuk tubuh ideal. Cowok, biasanya suka dengan wanita dengan bentuk tubuh yang montok dan padat. Sedangkan cewek, cenderung suka dengan bentuk tubuh langsing yang cenderung kurus.</p>
<p>Terlepas dari tren bentuk tubuh, cewek biasanya lebih rewel dengan bentuk tubuhnya sendiri, padahal si cowok ndak begitu mempermasalahkan. Selalu saja ada yang perlu dikurusin. Ndak heran kalo paket perawatan pengurusan badan atau makanan dan obat-obat yang menjanjikan kelangsingan pun laris manis.</p>
<p><a title="FABULOUS BODY SURVEY 2008: THE RESULTS " href="http://www.fabulousmag.co.uk/diets/diet_body_survey_results_issue_025.php" target="_blank">Majalah Fabulous pernah merilis hasil survey</a> yang dilakukannya pada tahun 2008. Hasilnya, ada 3 &#8220;ukuran&#8221; yang muncul, yaitu versi pria, versi wanita, dan versi rata-rata nasional di Inggris.</p>
<p>Kalo menurut Anda, bentuk tubuh ideal itu kayak apa?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammad.zamroni.net/bentuk-tubuh-wanita-ideal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
