Axis Java Jazz 2010: Tidak Hanya Masalah Musik

Perhelatan heboh Axis Java Jazz 2010 yang berlangsung pada tanggal 5-7 Maret 2010 usai sudah. Keriuhan di JIE (Jakarta International Expo) Kemayoran Jakarta itu telah meredup, lampu-lampu telah diturunkan, dan panggung telah dibongkar.

Meski saya ndak nonton secara langsung, tapi mengikuti perhelatan tersebut di ranah Twitter, membuat saya menemukan berbagai hal menarik yang patut dicermati. Rupanya ajang pertunjukan musik internasional itu ndak melulu cuma masalah musik (Jazz)!

Kalo ditanya apakah kamu penggemar (berat) musik Jazz, yang konon lahir pada abad ke-20 dari komunitas Afro-Amerika di selatan Amerika Serikat ini, sehingga kamu merasa kudu nonton acara Axis Java Jazz, tentu jawabannya beragam.

Ndak dapat dipungkiri, perhelatan akbar ini menjadi semacam ajang gaul, ajang aktualisasi diri, yang ujung-ujungnya menjadi semacam gaya hidup dan menjadi parameter tingkat “lu ke mana aje?”.

Tak ayal, sarana gaul masa kini, yang tak lain dan tak bukan adalah Twitter dan Facebook, menjadi penting dan tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tapi juga menjadi sarana aktualisasi diri (dengan mengupdate status “gue lagi ada di Java Jazz, nih!”, misalnya).

Saking pentingnya kedua layanan media sosial ini, menjadikan jalur online (via Twitter dan Facebook) menjadi jalur utama untuk berkampanye dan menanamkan brand. Bahkan beberapa blogger dan aktivis online juga “disewa” untuk ikut ambil bagian dalam promosi ini.

Rupanya promosi dan publikasi berhasil. Penonton membludak. Ribuan orang memadati area JIE Kemayoran. Namun sepertinya ada yang terlewatkan, yaitu masalah sinyal seluler!

Panitia mungkin lupa, bahwa dari ribuan pengunjung yang mengunjungi perhelatan ini membutuhkan piranti aktualisasi diri. Berbekal gadget untuk mengupdate status terkini, mengunggah foto di venue, hingga menghubungi teman-teman ketika terpisah dari rombongan, para pengunjung membutuhkan sinyal dan layanan data yang memadai.

BTS operator pun overload. Axis, sebagai sponsor utama mungkin sudah mempersiapkan infrastrukturnya dengan menambah kapasitas BTS di kawasan tersebut, namun pengguna operator lainnya? Mereka sewot dan bahkan tesiar isu, mulai dari pemblokiran sinyal operator lain hingga sterilisasi karena presiden dan wakil presiden juga mengunjungi event ini.

Para pengunjung pun marah-marah di Twitter akibat sinyal ilang. Mereka mengaku tidak bisa melakukan apa-apa, mulai dari melakukan komunikasi (telepon dan sms) hingga para pekerja media online yang kesusahan melakukan reportase secara langsung.

Berbagai komplain soal sinyal di Twitter ini akhirnya ditanggapi oleh panitia melalui Twitter. “Nikmati acaranya, tak usah memikirikan sinyal,” demikian kira-kira isi tweet panitia. Tweet ini langsung mendapat respon negatif di ranah Twitter. Panitia, dalam hal ini tidak boleh “menyalahkan” pengunjung.

Akan lebih baik kalo pihak panitia memberikan penjelasan mengenai persoalan hilangnya sinyal. Misal dengan memberi tahu bahwa BTS mengalami overquota, hingga memberikan tips-tips untuk mengatasi kegagalan komunikasi, dan jangan lupa sertakan kata “maaf” akibat ketidaknyamanan yang terjadi. Saya kira ini lebih berguna dan pengunjung mungkin bisa maklum.

Memang dalam setiap perhelatan tentu akan selalu terjadi masalah. Selain mengatasi masalah tersebut, berikan penjelasan dan informasi sehingga pengunjung dan penonton bisa memaklumi. Informasi seperti ini yang mungkin perlu di-push oleh panitia kepada para pengunjung, tidak melulu hanya melakukan promosi.

Twitter sebagai jalur dua arah, akhirnya bisa menjadi ajang komplain, sehingga mau ndak mau, akun Twitter selain jadi ajang promosi juga menjadi ajang “customer service”. Pemegang akun pun juga tentu harus tahu, kapan melakukan promosi dan kapan menerima keluhan.

Ke depannya, ada baiknya pihak panitia berkoordinasi dengan lebih bagus. Meski acara ini disponsori oleh salah satu operator seluler, saya kira tidak ada salahnya “meminta bantuan” kepada operator seluler lain untuk ikut menyukseskan acara. Ujung-ujungnya, nama operator itu juga bakal terpromosi, ketika misal sinyal operator lain jeblok, tapi sinyal dia tetep kuat (bahkan lebih parah, sinyal operator sponsor lebih buruk dari sinyal operator kompetitor).

Selain membantu peningkatan kapasitas secara temporary, ada baiknya operator seluler juga memikirkan investasi untuk membangun jaringan data yang layak di kawasan JIE Kemayoran, karena lokasi ini akan sering menjadi lokasi berbagai perhelatan.

Di JCC Senayan, yang juga sering digunakan sebagai lokasi perhelatan, cakupan dan kapasitas BTS di sana sudah cukup memadai. Apalagi di kawasan itu sudah didukung jaringan data yang besar, karena mungkin JCC dekat dengan lokasi perkantoran.

Semoga postingan ini bisa jadi masukan, sehingga ke depan acara serupa ndak menemui masalah yang sama. :-)

Baca juga: Saran & Kritik Untuk Java Jazz 2010.

Related Articles

8 responses

  1.  

    sekali lagi ketikan dgn jari bisa membawa masalah atau berkah (evil_grin)

    didut — March 9, 2010 06:57
  2.  
  3.  

    tweetmu harimaumu :-D

    Dian — March 9, 2010 08:33
  4.  

    senayan itu golden area untuk semua operator, zam. fully optimized.

    Adham Somantrie — March 11, 2010 10:24
  5.  

    yang nonton Java Jazz kebanyakan bawa hape yah?

    *kabuur…

    mawi wijna — March 11, 2010 13:29
  6.  

    Gak mikir apah kalo ada orang tua bawa anaknya trus jadi cari2an karena gak ada signal..? CIS.

    titiw — March 12, 2010 13:18
  7.  

    masalah sinyal ini rasanya agak bodoh. kan JJF udah 5 tahun diadakan, masak sih ga siap-siap juga operatornya? aneh lah.. tahun kemaren lancar-lancar aja kok segala bentuk komunikasi meskipun pengunjung juga membludak… (nottalking)

    Chic — March 12, 2010 18:36
  8.  

    kalau menurut saya .

    simpan saja dari pada bawa masalah, ribet.

    seli_usel — August 24, 2011 10:41