Berawal dari Mas Blonty van Mbois yang menggulirkan pertanyaan ini dan memberikan jawabannya di blognya dalam bahasa Jawa. Saya mencoba menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia supaya bisa dinikmati –halah– oleh khalayak.
Sebagai awalan, lonthé adalah sebutan populer untuk wanita tuna susila, pelacur, pekerja seks komersil, di daerah Jawa Tengah (dan Yogyakarta). Yang menarik, dari mana kah sebutan “lonthé” ini berasal?
Berawal dari obrolan beliau dengan salah satu rekannya yang seorang sarjana sastra Jawa. Sampai sekarang misteri asal-usul kata lonthé ini masih berlanjut. Menurut sarjana sastra Jawa tadi, kuat dugaan kata lonthé berasal dari sebutan anak hewan, seperti belo untuk menyebut anak kuda, pedhét untuk menyebut anak sapi, cempé untuk menyebut anak kambing, dan sebagainya.
Awalnya, kata lonthé ini netral, tidak memiliki “nilai rasa”, seperti halnya kita menyebut kata “kursi”, “beton”, “meja”, “direktur”, “polisi”, “artis”, “nasi”, “roti”, dan sebagainya. Nilai rasa dan makna kata ini berubah karena adanya eufemisme, di mana satu kata bisa memiliki banyak makna.
Dari diskusi yang dilakukan Mas Blonty di Facebooknya, Mas Blonty mengumpulkan pendapat dari kawan-kawannya. Ada beberapa pendapat yang muncul, berikut saya mencoba merangkumnya.
- Ada yang bilang, kata lonthé berasal dari kata loonely (kesepian), pendapat ini dimuat di tulisan Jayabaya tahun 80-an.
- Lonthé adalah nama hewan yang keluar di malam hari berbentuk semacam ngengat namun kecil. Di Jateng hewan ini disebut othé-othé dan di Jatim hewan ini disebut dengan lonthé.
- Lonthé adalah nama serangga seperti ngengat berwarna putih, baunya harum, dan keluar hanya di waktu malam (nocturnal), sukanya mengerubungi cahaya/api, sehingga kerapkali karena terlalu dekat, serangga ini terbakar. Seiring perkembangan jaman, sebutan lonthé digunakan untuk merujuk ke orang yang tingkah lakunya mirip dengan serangga tadi, yaitu suka keluar malam, berwarna putih (make-up tebal dengan bedak berwarna putih), wangi, dan suka mengerubung gemerlap cahaya (sering ditemui di tempat dugem, clubbing, ajeb-ajeb), sehingga sering “terbakar” oleh riuhnya suasana.
- Karena lonthé merupakan serangga hermaprodhite (berkelamin ganda), maka lonthé juga bisa ditujukan kepada pria (lola — lonthé lanang).
- Othak-athik-gathuk (disambung-sambungin), kata lonthé bisa jadi merupakan akronim, yaitu dari kalimat kelon thélé-thélé (duh, ini apa ya terjemahannya?).
- Pada buku “Sejarah dan Perkembangan Pelacuran di Indonesia”, lonthé adalah simpanan raja-raja yang dikaryakan.
- Para pelaku seni karawitan kuno sering menggunakan kata sénthé (sejenis tanaman umbi-umbian) untuk menyebut orang yang suka melakukan ngimpul wulung (duh, ini terjemahannya gimana, ya?). Sénthé.. nyénthé.. ngelonthé..
- Daun sénthé selalu kering meski diguyur dengan air. Bisa jadi sifat daun sénthé yang selalu “kering” ini digunakan untuk menyebut kelakuan lonthé yang suka menjaga diri tetap “kering” (tidak menikmati, tidak merasakan kenikmatan seksual).
Demikian kira-kira rangkuman dari berbagai pendapat yang masuk di artikel Facebook Mas Blonty. Silakan dipikirkan dan ditimbang-timbang sendiri kira-kira mana yang “cocok”. Minimal bisa menambah wawasan kita.
Saya juga melemparkan pertanyaan ini ke Zen yang keren banget dalam urusan sejarah dan sastra.
selain lonthe ada balon untuk daerah jawa timur sby dan sekitarnya, genggek sebagian jatim, dan terakir yg kudengar adalah lontong, daerah batam dan skitarny
wah.. suwun informasinya, kang!
Sekadar pelurusan dan penjelasan.
Lonthe itu adalan nama anak hewan, sejenis serangga, yang suka keluar malam, berbau wangi, dan suka mendatangi tempat-tempat yang terang. warna serangga itu putih, seperti kupu-kupu, namun ukurannya lebih kecil, warnanya putih.
serangga itu diduga hermaprodit. maka, sifat itulah yang kemudian diadaptasi untuk menamakan profesi manusia paling purba, yakni pelacur itu.
Kelon Thele-thele itu padanannya kelonan yang bikin lemas… (asosiatif, kan?)
Senthe itu talas. (me)Ngimpul diambil dari kata ‘kimpul’ (maknanya seolah-olah atau menjadi kimpul). Kimpul itu nama ‘ubi’-nya talas. Kata ‘wulung’ itu untuk menunjuk pada talas ungu, untuk membedakan dengan yang lazim (hijau). Tanaman tebu yang berwarna ungu juga dinamai ‘tebu wulung’.
Jadi, ‘ngimpul wulung’ itu semacam kata sandi (Jw. sasmita, perlambang, asosiasi), yang merujuk pada senthe (talas).
begitu tambahan dariku, Zam…..
waa! matur suwun sanget penjelasannya, kakang mas!
Lha ciblek itu kan nama burung, tapi kemudian dipakai untyk menamai pelacur ABG atau ABG yang gampangan. Lantas othak-athik gathuk menjadikannya akronim “cah cilik betah melek”.
ada lagi kata “wabal” alias “wanita baulan”. baulan, ya maknanya sama saja dengan lonthe itu..
kalau perek?
Wah, aku ra melu2 wae lah
*garuk-garuk kepala yang tidak gatal*
Kok masukan dari Mas Iman nggak ditulis?
wah ilmu yang bermanfaat….
Lho.. Lonte itu berasal dr Jawa toh Zam?
Aku malah tadinya berpikir kata itu cuma dipake di Medan sana, krn cuma kata itu yg dipake untuk menyebutkan wanita tuni susila.
Waktu di Bogor malahan aku jarang mendengar kata seperti itu.
aku malah baru tau kalo di Medan juga ada istilah lonthe yang merujuk ke hal yang sama. bisa diceritakan dari mana asal kata itu menurut versi Batak, Ge?
Awalnya saya kira itu plesetan dari lontong, :)
Tapi saya lebih setuju sama poin nomer 5 karena Orang Jawa itu umumnya suka Othak-athik-gathuk.
jawabannya udah dijawab sama Mas Blonty di komentar di atas, bro..
haha, informasi baru nihh. Bagus, bagus
Lonthe hanya sebuah istilah ya Zam. Padanannya banyak: ada pecun, ada neneng-neneng di Batam(yang ini terkesan diskriminatif)…
segitu dulu Om Zam.
makasih mas infonya.
infonya sanget bermanfaat untuk saya .